Tampilkan postingan dengan label Literacy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Literacy. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 Mei 2017

PERSETERUAN PARA DEWA YANG SERU, RUMIT DAN PANJANG

Saya menemukan kesimpulan baru. Jika memang memungkinkan membaca novle berbahasa Inggris, bacalah buku aslinya jangan terjemahan. Karena sebaik-baiknya terjemahan, tidak akan sebaik citra rasa sebenarnya yang ingin disampaikan oleh penulis.

Sebenarnya ini bukan pertama kali saya rasakan ketika membaca American Gods. Sebelumnya pengalaman serupa pernah saya rasakan ketika menyelesaikan novel Max Havelar. Bahkan lebih parah. Jika American Gods yang saya baca ini menurut saya cuma kehilangan cita rasa keindahannya saja, terjemahan Max Havelar yang saya baca dulu itu berantakan. Jangankan keindahan, memahami isinya saja butuh perjuangan ekstra.

Novel American Gods sendiri sudah saya beli cukup lama. Nama besar Neil Gaiman tentu yang membuat saya memasukkan novel ini ke keranjang belanjaan saya. Sebelumnya saya sudah menonton film Stardust. Film itu diangkat dari novel berjudul sama karangan Gaiman. Dan saya sangat menyukai film itu.


Neil Gaiman adalah seorang pencinta dongeng
(Sumber gambar : dok. pribadi)

Dari Stardust pula saya membayangkan Gaiman adalah sosok pencinta dongeng dan fantasi. Tak heran karya-karyanya mengangkat dunia fantasi. Seperti Stardust yang mengangkat tema fantasi klasik khas Inggris. Cerita seorang pria yang ingin membawakan bintang jatuh untuk kekasihnya.

Setelah itu saya tidak bertemu dengan karya Gaiman yang lain. Sampai akhirnya American Gods ini kebeli. Dan setelah menyelesaikan membacanya, keyakinan saya tetap sama. Gaiman memang pencinta dongeng dan dunia fantasi. Meski dalam American Gods dongeng-dongeng itu dikemas dengan gaya agak berbeda dalam genre urban fantasi.

Bercerita tentang Shadow, narapidana yang mendapati istrinya meninggal dunia tepat saat ia dibebaskan dari penjara. Belum hilang suasana duka kehilangan istri, ia justru mendapat tawaran pekerjaan sebagai bodyguard dari seorang pria misterius bernama Mr. Wednesday. 

Mr. Wednesday ternyata bukanlah 'manusia' biasa. Dia adalah inkarnasi Odin, dewa tertinggi dari Skandinavia. Bersama Mr. Wednesday, Shadow melakukan petualangan menemui dewa-dewa kuno yang terlupakan dan kini hidup di Amerika Serikat tak ubahnya manusia biasa. Mulai dari Mr. Nancy (Anansi, Dewa laba-laba dari Afrika), Czernobog (Dewa bangsa Slavia), Mad Sweeney (Seekor Leprechaun, makhluk mitos bangsa Irlandia), Mr. Ibis, Mr. Jaquel (perwujudan dewa bangsa Mesir kuno) hingga Dewi Easter ( yang kini pemujaannya di Amerika tergantikan oleh Paskah). 

Petualangannya bersama Mr. Wednesday membawa Shadow menuju sebuah perang antara dewa-dewa kuno yang terlupakan dengan dewa-dewa masa kini yang melambangkan berbagai kemajuan dunia seperti media dan tekhnologi. Serta sekelompok orang-orang 'Man in Black' yang dipimpin Mr. World yang melambangkan kekuasaan bawah tanah yang mengatur dunia.

Kisah American Gods karya Neil Gaiman ini penuh simbol. Berbagai hal mistis memiliki personifikasinya termasuk dewa-dewa masa kini seperti dewa transportasi, radio, televisi, IT, dll. Begitupun berbagai kisah dongeng dan mitos dimunculkan menjadi kisah nyata. Seperti Bilquis (Ratu Seba) yang digambarkan menjadi pekerja di kawasan 'distrik merah', Ifrit (ya benar, Jin Ifrit) yang harus menjadi supir taksi untuk menyambung hidup, hingga berbagai macam dewa kuno dan mitos yang kian melemah karena ditinggalkan pemujanya sehingga terpaksa hidup layaknya manusia biasa dengan kesusahan.

Seru, rumit dan panjang. Itu tiga hal yang saya rasakan ketika berusaha menyelesaikan novel ini. Ceritanya memang seru dan mengasyikkan. Ditambah kecerdasan Gaiman membangun karakter Shadow yang digambarkan sebagai pria 'lurus' ditengah intrik dewa-dewa ini. Serta tak lupa banyak twist yang bikin cerita tidak membosankan.

Namun American Gods juga terasa rumit bagi saya. Begitu banyak tokoh yang dihadirkan. Terlebih saya tidak begitu kenal dengan dewa-dewa tersebut karena memang berasal dari kultur yang berbeda, serta tak begitu tahu tempat yang menjadi latar cerita. Seperti misalnya House on the Rock atau Rock City. Mereka yang tak mencari tahu lagi seperti apa Rock City mungkin tidak bisa membayangkan seperti apa petunjuk arah kota tersebut yang terpasang dibanyak gudang dan bangunan di sekitar lokasi sebagaimana diceritakan di dalam novel. Atau seperti apa House on the Rock yang memiliki komedi putar besar dengan karakter-karakter makhluk mitologi di sana. Ya, beberapa tempat di dalam novel tersebut memang benar-benar ada di dunia nyata.  


Diceritakan dalam novel tulisan seperti ini,
 mudah ditemui saat menuju Rock City
(sumber gambar : Brent Moore)

Dan pastinya novel ini sangat panjang. Novel terjemahan yang saya baca saja jumlah halamannya mencapai lebih dari tujuh ratus halaman. Tak heran saya butuh energi ekstra hingga akhirnya menyelesaikan membacanya. Walau akhirnya selesai juga dan menurut saya tidak mengecewakan.

Jadi pesan saya ketika membaca novel ini jangan jauh-jauh dari wikipedia. Setidaknya agar ada referensi seperti apa sih sebenarnya wujud dan karakter dewa yang digambarkan dalam novel ini atau seperti apa sih tempat-tempat yang sedang diceritakan Gaiman. 

Saya sih tidak jera membaca karya Gaiman lainnya. Kebetulan sekuel novel American Gods ini, Anansi Boys sudah nangkring manis di rak buku, menanti giliran untuk dibaca. Jadi mari sama-sama kita berkenalan dengan dewa-dewa Amerika ini dan usahakan novel aslinya, jangan yang terjemahannya. Kecuali yang kalau bahasa Inggrisnya pas-pasan kayak saya. Mau gimana lagi kan?

Sabtu, 08 Oktober 2016

MEMBEDAH AKAR KONFLIK SUNNI DAN SYIAH

Siapa bilang menjadi pembaca ulung itu mudah. Nyatanya mungkin tidak banyak yang bisa menghabiskan waktu menyantap tuntas sebuah buku di sebagian besar waktunya. Mungkin banyak yang bertekad untuk bisa menghabiskan sekian banyak buku dalam suatu waktu, namun seperti halnya mengupdate blog, tidak semua orang bisa melakukannya. Termasuk saya. Hanya saja, bagi saya meski tidak secepat beberapa orang yang saya kenal, saya merasa tidak bisa dilepaskan dari aktivitas membaca.

Saat menulis postingan kali ini, saya terjebak dalam situasi kartu perpustakaan yang ternyata telah habis masa berlakunya. Dan ternyata, proses memperpanjangnya tidak semudah yang dibayangkan. Butuh waktu dan butuh sedikit berdamai dengan panjangnya birokrasi, padahal saya termasuk orang yang paling malas berurusan dengan birokrasi. Karenanya saya yakin butuh waktu yang cukup panjang untuk menyelesaikan proses ini. Bukan karena apa-apa, lebih ke rasa malas tadi.

Karenanya saya terpaksa membuka kembali tumpukan buku-buku yang sudah lama dibeli namun nyatanya belum pernah dibaca. Ini kebiasaan buruk saya, membeli terus tidak langsung membacanya. Bukan apa-apa, biasanya saya lebih mendahulukan menyelesaikan baca buku pinjaman ketimbang buku yang dibeli. Pikirnya, buku yang dibeli kan santai bacanya, sementara pinjaman musti dikembalikan segera. Akibatnya setelah saya periksa ternyata jumlah buku yang belum saya baca lumayan banyak.

Sebenarnya dalam list "Sedang dibaca" saya di Goodreads, masih ada beberapa buku yang belum tuntas: dua novel Tere Liya, sebuah novel teenlit lama, dan sebuah karya absurd Sujiwo Tedjo yang tak juga kunjung selesai saya baca. Tapi entah kenapa saya malah akhirnya ingin membaca buku lainnya. Sebuah buku lama yang dulu hanya sempat terbaca seperempat. Kebetulan momen saat ini tepat sekali.

Momen yang saya maksud adalah hari Asyura yang diperingati setiap 10 muharam pada tiap tahun kalender hijriyah. Konon hari tersebut, cucu Rasulullah SAW, Husein RA terbunuh di Karbala. Sejak saat itulah sunni dan syiah akhirnya mulai berseteru hingga kini. Karenanya saya pikir, di momen ini membaca buku berjudul "Wajah Politik Muawiyah bin Abu Sufyan, Mengurai Sejarah Konflik Sunni-Syiah" karya Hepi Andi Bastoni rasanya tepat sekali. Ketimbang asyik saling tuding dan hujat, mending mencoba belajar sejarahnya.

Muawiyah bin Abu Sufyan RA, yang menjadi kisah utama dari buku ini adalah salah seorang sahabat Rasulullah. Namun bagi sebagian orang ia dianggap kontroversial. Ia dituding sebagai sosok yang mengakhiri kepemimpinan Ali bin Abi Thalib RA. Di sisi lain ia juga dianggap sebagai seorang yang salih dan cerdik, serta berjasa menyatukan umat Islam dari perpecahan. Selalu ada dua sisi dalam memandang sejarah, tergantung dari sudut mana kita berdiri. Tapi mengenali sosok yang merupakan "mata badai" dari perseteruan sunni-syiah ini rasanya tidak ada salahnya. Toh tidak ada ruginya belajar sejarah, karena sejarah adalah cermin, tempat untuk menilai kekurangan diri.

Buku-buku sejarah selalu menarik untuk dibaca, ini salah satunya
(sumber gambar : dok pribadi)
Jadi, selamat hari asyura, selamat saling memahami. Sebelum saling benci, saling tuding, apalagi saling bunuh, mari kita baca buku dulu banyak-banyak. Salah satunya buku ini: Wajah Politik Muawiyah bin Abu Sufyan, Mengurai Sejarah Konflik Sunni-Syiah." Dan jangan lupa puasa sunah juga ya ntar...

Senin, 23 Mei 2016

ADAPTATION. : MELAWAN WRITER'S BLOCK ALA CHARLIE KAUFMAN

Nama Charlie Kaufman sudah cukup populer di Hollywood entah sebagai screenwriter, produser atau sutradara. Karyanya memang bisa dihitung jari. Namun setiap karya-karyanya selalu menarik untuk dinanti. Ia punya signature tersendiri yang seringkali menabrak pakem, nyeleneh dan tidak biasa.

Perkenalan pertama saya dengan Charlie Kaufman adalah di film Eternal Sunshine of the Spotless Mind. Film yang sukses meraih The Best Original Screenplay dalam ajang Academy Award ini masih menjadi salah satu film yang saya tonton berulang-ulang kali hingga sekarang. Gaya penceritaan yang unik dan imajinatif, menjadikan film ini bukan sekedar drama percintaan yang kacangan.

Perkenalan saya pada Charlie Kaufman berlanjut pada Being John Malkovich. Pertanyaan saya sebelum menontonnya juga sama, mengapa John Malkovich? Tapi begitu menonton film yang juga masuk nominasi Academy Award untuk Skenario Asli Terbaik ini, yang saya tahu adalah Charlie Kaufman memang seorang jenius. Film satu ini benar-benar mind-blowing. Ide-idenya begitu orisinil jika tidak mau dibilang "aneh." Mungkin tidak semua penonton akan menyukainya, namun semua pasti setuju ceritanya benar-benar tidak biasa.

Film selanjutnya yang saya tonton dan akan dibahas kali ini adalah Adaptation. Mengapa menurut saya menarik? Karena di film ini Charlie Kaufman bercerita tentang dunia kepenulisan. Ada beberapa hal yang bisa kita pelajari dari cerita film ini yang mungkin bisa kita terapkan dalam dunia nyata. Sangat berguna tentu saja bagi para penulis.

Film tentang dunia kepenulisan...
(sumber gambar : scriptchix.com)
Berkisah tentang dirinya sendiri Charlie Kaufman, yang diminta untuk mengadaptasi sebuah buku non-fiksi untuk menjadi skenario yang bagus. Buku itu sendiri bercerita tentang anggrek dan ditulis oleh seorang wartawan dengan mewawancarai seorang peneliti tumbuhan yang eksentrik dan penuh passion. Idealisme Charlie Kaufman ingin menghadirkan sebuah skenario yang hanya menghadirkan keindaan bunga sebagaimana bukunya, namun buku yang tidak memiliki konflik apakah mungkin dijadikan sebuah skenario? Kisah ini bercerita tentang bagaimana Charlie Kaufman berusaha memecahkan writer's block tersebut dan sukses menjadi naskah skenario untuk film Adaptation. ini.

Bagi penggemar film-film populer Hollywood, film Adaptation. mungkin akan terasa membosankan. Namun untuk para penulis, ada banyak pelajaran yang bisa diambil dari kisah Charlie Kaufman di film ini.

1. Tentang Writer's Block

Writer's block jelas penyakit yang mengerikan bagi semua penulis, apalagi buat mereka yang dihadapkan pada deadline. Namun penyakit satu ini bisa menghinggapi semua penulis, baik yang pemula maupun profesional, tidak terkecuali pula Charlie Kaufman. 

Di film ini digambarkan berbagai cara yang dilakukan Charlie Kaufman untuk mengatasi writer's block-nya. Mulai dari menjanjikan diri sendiri sebuah hadiah, keluar dan mencari angin segar, hingga mengikuti seminar kepenulisan. Salah satu cara yang juga cukup menarik ditampilkan di film ini adalah dengan merekam ide. Ketika terpikir sebuah ide menarik, Charlie langsung merekamnya dalam bentuk suara. Sebuah cara yang mungkin layak untuk ditiru.

2. Tentang Bagaimana Riset Kepenulisan 

Ada dua sudut pandang di film ini. Dari sisi Charlie Kaufman yang sedang menulis skenario adaptasi serta dari sisi Susan Orlean, si penulis The Orchid Thief, buku yang sedang diadaptasi oleh Kaufman. Sebagai informasi, sosok Susan Orlean dan juga buku The Orchid Thief memang benaran ada di dunia nyata. Hal tersebut yang menurut saya unik dari film ini yang seolah menabrak batas antara fiksi dan realitas.

Nah dari dua sudut pandang tokoh ini kita mendapati berbagai cara riset kepenulisan. Seperti Charlie yang selain membaca The Orchid Thief juga membaca berbagai macam buku tentang tumbuh-tumbuhan, mendatangi pameran anggrek, hingga mewawancarai penulis aslinya untuk memahami karakter si penulis. Begitupun karakter Susan Orlean yang untuk menulis bukunya mewawancarai John Laroche, seorang pemburu anggrek yang eksentrik bahkan hingga terjun langsung ke rawa-rawa untuk menemukan anggek langka yang di film ini dikenal sebagai "ghost."

Proses menulis menuntut riset yang dalam
(sumber gambar : www.asharperfocus.com)
3. Menemukan Pembaca Pertama

Di film ini, Charlie Kaufman digambarkan memiliki seorang saudara kembar yang juga penulis skenario. Sosok saudara kembarnya yang bernama Donald Kaufman ini memiliki karakter yang berkebalikan dengan Charlie yang anti sosial. Namun Donald ini menjadi teman diskusi yang baik bagi Charlie soal banyak hal khususnya kepenulisan. Ia juga yang menjadi pembaca pertama dari naskah yang sedang dikerjakan oleh Charlie.

Menarik melihat bagaimana pembaca pertama bisa memberikan sudut pandang yang berbeda dari sebuah karya. Tidak hanya itu, sudut pandang yang berbeda menyingkapi suatu masalah bisa memberika informasi yang tidak diketahui oleh si penulis. Misalnya bagaimana sudut pandangnya yang unik Donald pada sosok Susan Orlean. Berkat kehadiran karakter Donald inilah Charlie berhasil mengungkap konflik yang akhirnya ditulis di dalam script film ini.

4. Seorang Penulis Harus Senantiasa Belajar

Sosok Charlie dari awal digambarkan sangat idealis dan terobsesi pada orisinalitas. Isi pikirannya bermacam ragam dan begitu aneh. Sementara Donald adalah kebalikannya. Ia menulis skenario drama trailler dengan ide-ide yang klise. Ia juga terbuka dengan berbagai macam hal baru. Karena itu, dari awal digambarkan bagaimana ia mengajak Charlie untuk mengikuti seminar kepenulisan. Namun Charlie terus menolak karena menganggap bahwa seminar-seminar kepenulisan adalah omong kosong.

Hingga kemudian Charlie benar-benar kehabisan ide untuk meneruskan naskahnya dan ia menurut untuk mengikuti seminar kepenulisan yang disarankan Donald. Pada akhirnya, Charlie merasakan manfaat dari kehadirannya di seminar tersebut. Begitulah, menjadi penulis harusnya adalah menjadi rendah hati dan tidak berhenti belajar. 

5. Naskah yang Kita Anggap Buruk Bisa Jadi Bagus di Mata Orang Lain

Naskah yang dituliskan karakter Donald, saudara kembar Charlie di film ini dianggap klise dan konyol oleh Charlie. Tapi nyatanya, begitu naskah Donald itu diserahkan Charlie kepada editornya, sang editor malah menganggap naskah itu adalah naskah terbaik yang pernah ditulis.

Memang sekilas ide-ide yang diajukan Donald agak klise serta mengangkangi logika sehingga membuat Charlie menganggapnya tidak masuk akal. Namun Donald yang sangat terbuka dengan ide-ide baru dan memiliki sudut pandang yang positif tidak patah semangat. Ia terus mengembangkan ide dari berbagai nasehat Charlie.

Di sisi lain ini mungkin pesan Charlie Kaufman juga sih bahwa film yang bagus belum tentu populer dan laris, sebaliknya film yang populer dan laris belum tentu juga sebenarnya masuk kategori bagus.

6. Menulis Adalah Sebuah Perjalanan

Menulis adalah sebuah perjalan. Kadang-kadang si penulis tidak tahu kemana tulisan itu akan membawa. Seperti quote Charlie yang sangat saya ingat dari film ini: "writing is a journey into the unknown." 

Menulis adalah sebuah perjalanan, nikmati tiap prosesnya
(sumber gambar: maxlevelgeek.com)
Karen itulah sepatutnya seorang penulis menikmati setiap prosesnya. Ibarat membaca sebuah buku yang bagus yang sampai membuat kita berdebar-debar untuk melanjutkan membaca halaman atau bab selanjutnya, menulispun harusnya begitu. Kita adalah pembaca pertama untuk karya kita sendiri dan harus menikmati proses bagaimana kisah ini berjalan. Hal inilah yang harus dirasakan oleh seorang penulis, terlebih penulis pemula yang belum terikat oleh deadline. 

Itulah beberapa pelajaran tentang dunia kepenulisan yang dapat saya petik dari film ini. Tentu juga kesenangan selama hampir dua jam bertanya-tanya apakah film ini kisah nyata ataukah fiksi semata. Sekali lagi, mungkin tidak semua akan menyukainya, namun film ini layak untuk masuk list film yang pernah kita tonton. Terlebih untuk mereka yang gandrung dengan dunia tulis-menulis.

Selamat menonton, dan jangan berhenti menulis!!!

Rabu, 30 September 2015

KRITIK SOSIAL HAMKA LEWAT KARYA-KARYANYA

Sebagian orang mungkin menilai seni hanya sebagai sebuah karya estetika semata yang cuma bicara soal keindahan. Namun sejatinya, seni bisa lebih dari itu. Seni seringkali bisa tampil sebagai senjata yang tidak kalah tajamnya dibandingkan dengan senjata yang sesungguhnya.

Karena itulah misalnya, dalam berbagai gerakan revolusi, seni seringkali menjadi ujung tombak. Di era revolusi Indonesia menuju kemerdekaan, kita punya angkatan 45 yang karya-karyanya begitu kental dengan semangat perjuangan. Memasuki medio 60-an, PKI faham benar dengan ini, karena itulah mereka sampai membentuk LEKRA yang kemudian berkat propaganda Orde Baru sangat terkenal dengan lagu Genjer-genjer-nya. Bahkan menjelang reformasi, Wiji Thukul dengan puisi-puisinya menjadi salah satu orang yang dianggap berbahaya dan perlu untuk dihilangkan.

Sebuah karya sastra yang baik harus mampu menangkap semangat zamannya. Karena itulah, tidak jarang sastra adalah cara yang tepat untuk menyampaikan kritik-kritik sosial terhadap ketidakadilan, pendobrakan terhadap kekolotan serta menyuarakan tuntutan revolusi.

Beberapa hari ini saya baru menyelesaikan membaca salah satu karya dari negarawan, ulama sekaligus sastrawan brilian yang pernah dimiliki negeri ini, Buya HAMKA. Merantau ke Deli adalah karya ketiga setelah Di Bawah Lindungan Ka’Bah dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wiijck. Masih mengangkat tentang kisah romansa yang mengharu biru, Merantau ke Deli lebih menyasar konflik hubungan yang lebih dewasa yaitu rumah tangga.

Haji Abdul Malik Karim Amrullah, salah satu sastrawan, negarawan dan juga ulama
(sumber gambar: wikipedia)
Namun jika ditanyakan kepada saya, apa sebenarnya yang ingin disampaikan Buya Hamka dari ketiga karyanya yang telah saya baca ini, jawaban saya hanya satu, “Hamka (yang notabene adalah orang minang) sedang protes terhadap hukum adat istiadat minang.” Adat-istiadat Minangkabau yang matrilineal dengan segala tetek bengeknya adalah salah satu fokus kritikan utama Hamka, yang dibeberapa karyanya tersebut digambarkan sebagai penyebab terpisahnya tokoh-tokoh utama yang sebenarnya saling mencintai.

Protes ini terasa kental sekali dalam misalnya Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck dan Merantau ke Deli yang mana kisah cinta utamanya adalah tentang dua karakter yang berbeda suku. Yang satu orang Minangkabau asli dan yang satu adalah orang yang berasal dari suku lain. Uniknya, kedua novel itu memberikan kita gambaran bagaimana dampak dari sistem adat Minangkabau yang matrilineal itu berlaku baik pada kaum perempuan maupun laki-laki. Di TKVDW, Hayati yang orang minang, sementara Zainuddin, yang orang minang-makasar tak dianggap bersuku minang. Sementara di  MKD, Leman-lah yang orang Minangkabau, sementara istrinya Poniyem adalah orang Jawa. Digambarkan pada kedua kisah itu, bagaimana adat minang yang kaku itu membuat tokohnya mengalami kemalangan.

Saya tidak ingin ikut menghakimi adat Minangkabau yang saya sendiri tidak begitu tahu bagaimana bentuknya. Lagipun saya yakin, Hamka menangkap wajah zaman itu dimana untuk hari ini mungkin telah banyak terjadi perubahan dalam adat-istiadat tersebut. Namun kalau kita melihat karya-karya Hamka ini, bolehlah kita bersetuju bahwa adat-istiadat yang berlaku saat itu kerap kali merugikan dan dianggap tidak tepat.

Hamka seolah ingin menegaskan bahwa adat-istiadat yang berlaku di ranah Minang kala itu lebih banyak karena pertimbangan harta. Hamka yang juga seorang ulama mungkin hendak pula mengkritik kebiasaan adat tersebut yang  ia anggap tidak sesuai ajaran Islam. Padahal sudah umum tersebut bahwa di tanah minang, Adat bersendi syara’, dan syara’ bersendi kitabullah.


Konon MKD adalah karyanya yang dianggap terbaik oleh HAMKA sendiri
(Sumber gambar: koleksi pribadi)
Juga kerasnya kritik Hamka adalah perasaan bangga diri orang Minangkabau dengan kesukuannya. Hal ini tampak jelas dalam kalimat, tiada beradat, bersuku, berlembaga, berkaum kerabat, berninik-mamak yang terus diulang-ulang yang dirujukkan pada tokoh-tokoh yang tak bersuku Minang. Bahkan dalam MKD, tokoh Poniyem yang secara budi bahasa, kelakuan dan perangai disukai oleh semua kerabat suaminya, namun tetap saja dipandang rendah hanya terkarena mereka bukan “orang awak”. Hanya orang minang yang dianggap bersuku berlembaga, sementara orang luar tidak.

Hamka juga menggambarkan perangai orang Minang yang tidak pula selalu baik. Misalnya Aziz pada TKVDW dan Mariatun dalam MKD. Seolah Hamka ingin menegaskan bahwa dengan menjadi orang minang tidak membuat seseorang menjadi lebih baik. Selain itu dalam kedua novel itu juga dimunculkan tokoh yang orang Minangkabau asli namun tidak merasa menurutkan adat itu adalah sebuah keharusan. Hal ini bisa dilihat pada karakter Muluk dan Bagindo Kayo yang keduanya menjadi teman diskusi bagi si tokoh utama. Kedua tokoh ini seolah menjadi wakil Hamka untuk “berbica” di dalam novelnya. 

Khusus untuk MKD, kita juga mungkin akan dapat menyimpulkan bagaimana pandangan-pandangan Hamka soal poligami. Hamka, meski dalam banyak kesempatan mengaku tak keberatan dengan praktik poligami, namun dalam novel ini ia bisa menggambarkan dengan jelas bagaimana beratnya praktik tersebut dari sisi perempuan. Setidaknya hal ini akan membuka cakrawala baru bagi kita untuk mengenal lebih dalam lagi tentang sosok Hamka.

Pada akhirnya kedua novel Hamka ini adalah cara Hamka untuk bicara terhadap perlakuan adat kaumnya pada zaman itu. Dan sebenarnya Hamka tidak sendirian. Banyak penulis-penulis yang menyampaikan "sesuatu" melalui karya-karya mereka.

Pramoedaya Ananta Toer misalnya dengan novelnya yang paling populer Bumi Manusia yang secara tidak langsung sedang ingin mendobrak pemikiran-pemikiran feodalisme masyarakat Jawa pada masa itu serta menyampaikan pesan bahwa setiap orang bisa mengubah nasibnya.  Ataupun seperti novel Max Havelaar karya Multatuli, penulis kenamaan asal Belanda yang memberikan gambaran secara jelas bagaimana penderitaan hidup sebagai bangsa terjajah yang dialami bangsa Indonesia di era Hindia Belanda.


Max Havelaar, salah satu novel yang penting untuk sejarah Indonesia.
(Sumber gambar: dokumentasi pribadi)
Tapi bagaimanapun, menurut saya sastra tetap adalah sebuah karya seni. Sebagai sebuah karya seni, sisi keindahan dan estetika tetap harus diperhatikan. Jangan sampai karya sastra berubah menjadi sekumpulan khotbah yang membosankan. Sastra tetap harus hadir sebagai sastra. Segala pesan moral, kritik sosial atau apapun yang ingin disampaikan oleh pengarang haruslah tersampaikan secara halus. 

Karena itulah, sastra yang baik adalah karya sastra yang mampu memberikan pemahaman, pencerahan dan pemikiran yang baru bagi mereka yang telah usai membacanya, namun di sisi lain tidak merasa sedang diceramahi dengan segepok ajaran-ajaran yang terkesan seperti dogma.

Dan menurut saya Hamka berhasil melakukan itu dalam karya-karyanya. Begitupun Pram dan Multatuli.

Rabu, 16 September 2015

BELAJAR JADI COPYWRITER DI SOSIAL MEDIA

Dahulu waktu masih belum tahu banyak hal, profesi kepenulisan yang saya ketahui hanyalah menjadi seorang penulis yang menerbitkan buku. Kemudian ternyata saya baru mengetahui bahwa profesi kepenulisan memiliki ruang lingkup yang sangat luas. Tidak hanya menjadi seorang penulis yang menerbitkan buku, ternyata bakat kepenulisan juga bisa dimaksimalkan dengan berkerja di banyak sektor. Mulai dari freelance hingga yang punya kontrak eksklusif. Entah itu berpenghasilan recehan sampai yang punya honor lebih gede dari Pegawai Negeri Sipil. Nah, Copywriter adalah salah satu diantaranya. 

Apa itu Copywriter? Mungkin tidak terlalu banyak yang mengetahui profesi satu ini. Namun bagi mereka yang bergelut di dunia marketing ataupun periklanan pasti akrab dengan kerjaan copywriter. Sebuah perkerjaan yang menuntut mereka yang terjun di dalamnya harus selalu kaya ide, kreatif dan akrab dengan kata.


Copywriter bukan tukang jaga fotocopy...
(sumber gambar: blog.kaosngartun.com)
Pengertian Copywriter menurut wikipedia adalah profesi di bidang periklanan yang bersifat komersial yang tugasnya menulis naskah iklan, baik untuk iklan cetak (print ad), iklan televisi (TV commercial), iklan radio (Radio commercial) dan segala macam bentuk komunikasi marketing. Sederhananya merekalah menulis susunan kalimat dan kata yang dipakai dalam segala macam iklan. Jadi ngerti sekarangkan bahwa copywriter itu bukan tukang jaga mesin fotocopy?

Sederhananya, segala bentuk komunikasi iklan yang membuat naskahnya adalah si copywriter ini. Menulis artikel iklan di majalah, naskah iklan untuk radio, nulis untuk advertorial di web. Termasuk juga membuat slogan-slogan unik yang biasa kita dengar di televisi seperti "selalu yang terdepan," milik sebuah brand sepeda motor, atau "berani kotor itu baik," milik sebuah brand deterjen.

Sekilas terdengar mudah, namun sebenarnya sangatlah susah. Sebuah iklan harus memiliki yang namanya stopping power. Ambil contoh ketika kita sedang menonton televisi. Ketika masuk iklan, seorang penonton memilik kekuatan absolut untuk tidak menyaksikannya. Penonton akan dengan mudah memencet remote dan berpindah chanel yang sedang tidak menayangkan iklan. Di sinilah pentingnya keberadaan stopping power yang bertujuan untuk membuat durasi orang melihat iklan menjadi lebih lama. Itu ditelevisi, di media-media lain seperti media cetak atau media billboard tantangan membuat stopping power ini bisa jadi lebih sulit.

Ternyata tidak mudahkan menjadi seorang copywriter? Tapi bukan berarti tidak bisa dipelajari. Biasanya mereka yang bergelut di dunia ini adalah jebolan dari jurusan komunikasi di universitas. Namun sebenarnya tidak ada pendidikan formal yang diharuskan untuk menjadi seorang copywriter. Yang dibutuhkan hanyalah skill menulis yang baik, kreatifitas tanpa batas dan ide-ide unik yang nggak ada habisnya. Karena itu semua orang bisa saja menjadi seorang copywriter kalo mau belajar dan terus berlatih.

Tetarik untuk mencoba menjadi seorang copywriter?

Kita bisa memulainya dengan berlatih copywriting di media sosial. Semua pasti punya media sosial kan? Nah, jangan cuma jadikan media sosial sebagai ajang curhat atau ngobrol nggak jelas. Mari jadikan akun sosial media kita sebagai tempat untuk belajar copywriter dan mempromokan diri bahwa kita punya bakat untuk jadi seorang copywriter.

Caranya bagaimana?

Misalnya di Instagram. Setiap foto yang akan kita posting harus kita lengkapi dengan caption yang menarik sehingga bisa memberi nilai tambah pada gambar tersebut. 

Begitupun di twitter dan facebook, gunakan pilihan kalimat yang memang tertata dengan unik sehingga dapat menarik mereka yang membacanya. Jadi walaupun galau, status yang kita buat tetap berkesan elegan.

Ambil contoh akun Budiman Hakim, seorang copywriter berpengalaman. Setiap caption dari akun media sosialnya selalu menarik untuk dibaca. 

Caption instagram pak Budiman Hakim selalu keren...
(sumber gambar: instagram)
Nyoba juga bikin caption yang menarik, ternyata masih harus banyak belajar
(sumber gambar: instagram)

Gimana, menarik bukan? Sambil eksis kita juga bisa belajar gimana copywriting. Siapa tahu suatu saat kita bisa jadi copywriter beneran.

Selasa, 15 September 2015

CARA EFEKTIF AGAR PRODUKTIF MENULIS

Menulis bukan perkerjaan baku dan teks book. Tidak ada aturan baku bagaimana bisa membuat seseorang jadi produktif dalam menulis. Masing-masing penulis punya caranya tersendiri. Bisa saja diikuti, namun tidak juga selalu pas untuk tiap orang. Karena itu setiap penulis perlu menemukan cara menulisnya sendiri yang dinilai paling nyaman.


Tapi berdasarkan pengalaman yang saya alami, ada beberapa tips yang mungkin berguna untuk membuat kita produktif dalam menulis.


Sediakan waktu khusus untuk menulis

Setiap orang memiliki waktu tersendiri dimana ia biasanya lebih nyaman untuk menulis. Saya lebih suka menulis pada malam hari. Sementara beberapa penulis yang saya kenal, ada yang terbiasa menulis di dini hari menjelang subuh, atau bahkan di jam kerja. Intinya dimana waktu yang paling nyaman dan membuat kita terasa lancar untuk menulis, gunakanlah waktu tersebut untuk menulis.

Nikmati waktu menulis semaksimal mungkin...
(sumber gambar: arismenulis.com)

Tangkap ide dan segeralah tulis

Ide bisa datang dimana saja, seringkali bahkan ditempat yag tidak kita duga. Ketika sebuah ide muncul, segeralah tangkap ide tersebut. Kemudian sesegera mungkin bangun ide mentah tersebut menjadi sebuah ide dasar entah dalam bentuk premis ataupun kerangka dasar. Setelah memiliki waktu yang senggang unuk mulai menulis, kita akan punya setumpuk ide yang bisa kita garap.

Fokus pada target

Setiap mengerjakan sebuah naskah entah itu pendek ataukah panjang, tentukan target kapan kita akan menyelesaikannya. Dan yang paling penting juga adalah pastikan kita memenuhi target yang kita tetapkan tersebut. Beberapa penulis mungkin bisa menggarap beberapa perkerjaan menulis sekaligus, namun untuk tahapan pemula seperti saya, fokus menyelesaikan satu persatu target adalah cara yang lebih disarankan. Nanti ketika kita telah cukup disiplin dan mampu bersahabat dengan deadline, barulah kita mungkin bisa dianggap siap untuk menyelesaikan beberapa karya sekaligus.

Buatlah outline

Untuk sebuah karya panjang, saya biasa membiarkannya mengalir begitu saja. Namun mengerjakan karya panjang dengan terlebih dahulu membuat outline akan sangat membantu. Selain membuat penjaga cerita agar tidak melenceng kemana-mana, outline juga membuat kita bisa membagi cerita dalam bagian-bagian tertentu entah per bab atau per bagian. Hal ini akan terasa sangat meringankan dalam proses pembuatan karya yang mungkin memakan waktu berbulan-bulan.

Buat diri senyaman mungkin

Lakukan apapun yang bisa membuat kita nyaman ketika menulis. Menyiapkan snack dan makanan, memutar musik kesukaan, memajang foto orang kesayangan, adalah beberapa cara yang mungkin biasa digunakan. Intinya buat kegiatan menulis menjadi kegiatan yang menyenangkan dan tidak menjadi beban.

Pasang tekad kuat untuk menyelesaikan tulisan

Godaan ketika menulis itu banyak bukan main. Mulai dari godaan buat bermedsos, main game, nonton DVD, tidur, macem-macem. Kalau nggak punya tekad yang kuat, menyelesaikan satu karya saja susahnya bukan main. Karena itu tekadkan diri kita ketika mulai mengerjakan sebuah tulisan, kita akan menyelesaikannya. Berikan reward jika seandainya kamu mampu menyelesaikannya dengan baik. Dan sebaliknya, berikan hukuman jika kita tidak bisa memenuhi target yang ditetapkan.

Terkadang diri perlu sedikit dipaksa agar tulisan selesai...
(sumber gambar: blog.nulisbuku.com)

Jangan pernah berhenti mengisi diri

Membaca adalah keharusan bagi seorang penulis. Dengan membaca, akan memperkaya kosakata dalam menulis. Dengan membaca juga akan menambah pengetahun si pembaca. Membaca adalah modal bagi setiap penulis. Karena itu biasanya kegemaran menulis selalu bermula dari kegemaran membaca. Analoginya, jika kita ingin menulis sebesar buah apel, tidak mungkin kita membaca lebih sedikit dari itu. Setidaknya kita harus membaca sebesar labu. Karena dari pengalaman membaca itulah kita bisa menulis. Sesekali tidak ada salahnya mengikuti pelatihan kepenulisan ataupun berdiskusi dalam komunitas kepenulisan.


Sabtu, 29 Agustus 2015

SERUNYA MENJADI BLOGGER

Mungkin tidak ada yang menduga bahwa menjadi seorang blogger bisa menjadi sebuah perkerjaan yang cukup menghasilkan. Bahkan masih banyak tidak tahu bahwa saat ini sudah ada orang yang memang berprofesi sebagai seorang blogger.

Tapi kalau kita melihat para blogger yang kini telah sukses dan memetik hasil dari blog yang mereka besarkan, jelas tidak mudah. Coba tengok saja Trinity yang telah menekuni dunia blogging lebih dari sepuluh tahun. Atau Raditya Dika yang memulai mengisi catatan harian daring-nya semenjak duduk di bangku sekolah.

Mereka telah merasakan sendiri bagaimana hasil yang diraih dari ketekunan mereka mengisi blog. Tak hanya pundi-pundi uang, mereka juga semakin didapuk sebagai ahli dibidang yang mereka khususkan tersebut sehingga membuka banyak peluang untuk meraih karir lainnya yang lebih dahsyat.

Mengikuti Passion

Rahasia keberhasilan para blogger-blogger profesional tersebut adalah karena mereka berusaha mengikuti passion mereka. Trinity sebelum memulai menjadi seorang "Naked Travel," aslinya adalah mbak-mbak kantoran biasa. Tapi ia memiliki passion yang kuat dalam hal jalan-jalan. Karena itulah ia memulai blognya dengan tujuan merangkum aksi jalan-jalannya.


Karena memang jalan-jalan telah menjadi passion bagi Trinity, ia menganggap berbagi pengalaman jalan-jalannya kebanyak orang sebagai suatu hal yang menyenangkan. Karena itulah ia tidak merasa terbebani mengisi blognya. Justru merasa senang melakukannya. Dan ketika orang memperoleh informasi yang bermanfaat dari blognya dan blognya menjadi populer, cepat atau lambat ia merasakan hasil dari ketekunannya mengisi blog.

Menjadi blogger menuntut ketekunan yang tidak sedikit. Karena itu jika bukan mengikuti apa yang benar-benar disukai, orang-orang cenderung tidak akan bertahan lama melakukannya. Percayalah, ketekunan pasti akan terbayar lunas, jika kita terus sabar dan berusaha.


Naked Traveler adalah hasil dari passion yang telah menghasilkan
(sumber gambar: dok pribadi)

Kreatif dan Terus Belajar

Dunia jejaring sudah demikian ramainya. Belum lagi ditambah media sosial yang tiap tahun terus bertambah. Ada sedemikian banyak content di dunia dalam jaringan ini. Pertanyaannya bagaimana membuat orang mau memilih salah satu diantara sedemikian banyak itu?

Kreatifitas adalah kuncinya. Jika ingin membuat orang-orang melirik konten yang kita ciptakan, kita harus mampu menyajikan sesuatu yang berbeda dengan yang orang-orang sajikan. Tidak hanya berbeda, namun juga menarik.

Alit Susanto mungkin bisa dibilang cukup terlambat dibanding Raditya Dika dalam nge-blog. Dengan mengambil genre yang sama, tentu butuh usaha yang keras untuk bisa mengejar Radit yang jauh lebih populer. Saya ingat dahulu, ketika Raditya Dika sedang booming dengan Kambing Jantan-nya, Alit masih seorang mahasiswa kost yang sering melucu di Kaskus.

Tapi kemudian dia nge-blog dengan gaya yang berbeda denga Radit. Konten blognya tidak berisi banyolan-banyolan konyol semata, namun mengangkat hal-hal yang menarik dan menurut saya cukup "berisi" namun dibawakan dengan cara yang tetap komedi. Pun, Alit menurut saya memiliki kemampuan menulis yang baik, sehingga walau banyak konten di blognya berisi iklan, ia berhasil memasukkannya dengan rapi dan kreatif.

Hasilnya memang tetap Alit tidak se-populer Radit. Tapi dia mempunya basis massa penggemarnya sendiri. Dan blognya punya pengunjung yang tidak sedikit.


Waktu awal juga tulisan Alit susanto tak sebagus sekarang...
(sumber gambar : shitlicious.com)

Lihat Peluang

Menjadi blogger adalah cara paling tepat untuk membangun personal branding. Namun membentuk sebuah personal branding yang solid bukanlah sesuatu yang mudah. Terlebih di zaman sekarang ketika orang-orang dengan spesialisnya masing-masing juga telah memiliki akses terhadap tekhnologi.

Di sinilah letak kejelian melihat peluang untuk membangun potitioning diri. Tidak ada salahnya menspesialisasikan diri pada sebuah segmen yang terbatas namun kita bisa menonjol di sana. Ambil contoh Ronald Frank yang sudah melabeli diri sebagai pakar percintaan sejak tahun 2007. Mungkin pada masanya terdengar konyol. Tapi ketika ia berhasil mempertajam potitioning nya tersebut, ia berhasil menjadi salah satu yang terdepan di segmen tersebut. Bahkan kini makin banyak bermunculan para pengikut yang mencoba membangun potitioning yang sama.


Ronald Frank, sukses menjadi pakar cinta...
(sumber gambar: youtube.com)
Pada akhirnya, menjadi blogger berarti membangun personal branding untuk diri kita sendiri. Nikmati apa saja yang kita bagikan di dalamnya, sehingga kita akan merasa gembira melakukannya. Dan jika kita melakukannya dengan tekun, pada saatnya nanti kita akan merasakan hasilnya.

Jumat, 28 Agustus 2015

BERLATIH MENAMBANG IDE

Bagi seorang penulis, ide adalah sesuatu yang sangat berharga. Sebuah karya tulis dari apapun itu, selalu dimulai dari sebuah ide. Beberapa penulis mencari ide dengan cara yang unik. Ada yang sambil berendam, ada yang sambil (maaf) buang air besar, ada yang dengan jalan-jalan, dan ada juga bahkan yang dengan mengurung diri di kamar. JK Rowling pun menemukan ide untuk menulis Harry Potter ketika sedang melakukan perjalanan di dalam sebuah kereta api.

Belajar dari JK Rowling, ide bisa muncul dimana saja...
(sumber gambar: twitter.com)
Meski sering kali kemunculan ide itu bergantung pada mood, namun seorang penulis profesional haruslah bisa memancing ide bukannya hanya menunggu ide muncul. Karena jika hanya menunggu, kita tidak tahu kapan si ide itu muncul. Walaupun memang ada penulis yang seperti ini, namun hal ini tentu tidak baik untuk produktifitas seorang penulis. Dan tentu juga tidak disukai oleh editor.

Ada yang bilang, ide yang baik itu munculnya tidak bisa dipaksakan. Ada benarnya juga. Banyak penulis yang menemukan ide untuk karya-karya terbaik mereka justru dari tempat yang tidak di duga. Namun bukan berarti kita harus pasrah menunggu ide itu datang dengan sendirinya. Kita bisa mencoba melatih untuk memancing ide.

Tulis apa saja secara rutin

Membiasakan diri menulis apa saja adalah cara sederhana untuk melatih munculnya ide. Tidak perduli itu ide bagus ataupun buruk, kita bisa menyimpannya untuk lain waktu. Hal ini akan membuat kita memeliki bank ide. Suatu saat nanti, ketika kita membuka-buka kembali bank ide ini, mungkin saja kita akan menemukan ide yang menarik untuk dieksekusi menjadi sebuah tulisan.

Mengecek berita hari ini

Berita adalah sumber ide yang tiada habisnya. Setiap pagi jangan pernah lewatkan kesempatan untuk melahap habis isi surat kabar. Tentu tidak cukup dengan membaca saja. Kita juga bisa mencoba melihat sebuah berita dengan berbagai sudut pandang. Kalaupun ada yang menarik akan lebih baik jika kita bisa membuat kliping untuk berita-berita tersebut. Percayalah cara inilah yang dipakai Gola Gong untuk memancing ide.

Berita-berita di surat kabar sering kali jadi inspirasi ide...
(sumber gambar: foto.viva.co.id)

Mencoba mengasosiasikan dua hal yang tidak berkaitan

Pernah mencoba memikirkan dua hal yang sama sekali tidak berhubungan. Misalnya tentang pohon apel dan seseorang pria yang sedang mencari cinta sejati. Apa ide yang bisa kita gali dengan dua hal yang tidak berkaitan itu? Lelaki yang putus asa, kemudian jatuh cinta pada pohon apel? atau Pohon apel yang jatuh cinta dan berubah menjadi perempuan cantik? atau seorang pria yang teringat dengan kenangan dibawah pohon apel yang hendak ditebang bersama kekasih dicintainya yang telah tiada? Lihat sudah berapa ide yang tercipta kan?

Berkeliling untuk jalan-jalan

Ketika sedang pusing memikirkan ide, cobalah untuk berjalan-jalan sejenak. Coba cari tempat-tempat baru yang belum pernah dikunjungi sebelumnya. Pasar pagi, warung kopi, pasar malam, pinggir jalan, puncak gunung.  Tentu saja jalan yang tidak sekedar jalan. Melainkan mengamati sambil berimajinasi. Pikirkan hal-hal yang mungkin saja terjadi di tempat-tempat yang kita kunjungi tersebut dari berbagai sudut pandang.

Itulah tips-tips yang mungkin bisa digunakan untuk memunculkan ide menulis. Sebenarnya hal ini tidak sulit jika kita sudah terlatih. Percayalah, ide itu bertebaran dimana-mana, tinggal kitanya saja mau atau tidak menggalinya dan menariknya keluar dengan imajinasi kita.

Good luck! Selamat mencoba.

Rabu, 19 Agustus 2015

NUTRISI SEORANG PENULIS

Sebagai seorang penulis, entah itu sebuah karya cetak atau media digital (blogger maksudnya), jam terbang saya memang tidak tinggi-tinggi amat. Malah boleh dibilang masih amatiran. Apalagi kalau soal perkara produktivitas. Saya sebenarnya tidak layak mengaku penulis. 

Tapi meski jelek-jelek begini, saya sudah beberapa kali dapat kesempatan bertemu muka dengan beberapa penulis yang boleh dibilang sudah profesional. Sebut saja seperti Bernard Batubara, Faudzil Adhim, Salim A Fillah, Pipit Senja dan beberapa nama lainnya. Beberapa diantaranya bahkan saya beruntung mendapat previlege berdiskusi panjang lebar tentang dunia tulis menulis. 

Sesibuk apapun, Benz sempatkan membaca minimal 100 hal. Kalau kamu?
(sumber foto: bookaholicfund.wordpress.com)
Selain kesempatan bertemu tatap muka, saya sering pula mengikuti beberapa pelatihan kepenulisan secara online. Salah satunya yang diselenggarakan oleh mbak Ari Wulandari atau yang lebih ngetop dengan nama penanya Kinoysan. Juga aktif bergabung dengan beberapa milis sastara online dan berteman secara maya dengan penulis-penulis favorit saya macam Kurnia Effendi, Dee dan Gola Gong.

Dan sebuah kesimpulan yang bisa saya tarik dari interaksi saya dengan para penulis hebat tersebut adalah bahwa mereka ini selain penulis yang handal, juga merupakan pembaca yang ulung. Tidak cuma soal kuantitas, tapi juga soal kualitas buku-buku yang mereka baca. Karena itulah, salah satu cara saya untuk mencari referensi buku-buku bagus adalah dengan mengecek buku-buku apa saja yang sedang dibaca oleh para penulis favorit saya.

Ada pepatah yang mengatakan bahwa kita adalah apa yang kita makan. Kalimat bijak ini bermakna bahwa makanan yang kita makan akan membentuk kita. Apa bila makanan yang kita makan adalah makanan yang baik dan halal, maka kita akan terbentuk menjadi manusia yang baik. Begitu pula sebaliknya, jika yang kita makan berasal dari yang buruk dan haram, jangan heran jika manusia yang terwujud cenderung pada keburukan.

Kalimat tersebut juga berlaku di dunia kepenulisan dengan sedikit perubahan. Yang kamu tulis adalah apa yang kamu baca. Yang menentukan kualitas sebuah tulisan selain skill si penulis juga adalah pengalaman membaca si penulis. Sering bukan para penulis mendapat influence dari penulis-penulis favorit mereka. Hal ini tentu saja karena penulis-penulis favoritnya tersebut adalah yang paling banyak karyanya ia baca dan paling berkesan untuknya.

Karena itulah membaca adalah sebuah keharusan bagi seseorang yang ingin menjadi penulis. Bahkan bagi penulis profesional sekalipun yang sehari-harinya kerjanya hanya menulis saja. Bernard Batubara konon selalu menargetkan membaca minimal 100 halaman sehari disela-sela kesibukannya sehari-hari. Bahkan Fauzil Adhim pernah bercerita bahwa ia selalu menyediakan waktu khusus untuk membaca. Dan bacaan merekapun bukan bacaan sembarangan. Melainkan bacaan yang akan membentuk rasa dari karya kepenulisannya kelak.


Max Havelar, dari SD sering dengar, baru sekarang bisa bacanya
(sumber foto: dokumen pribadi)
Karena itulah, buat siapa saja yang bercita-cita ingin menjadi penulis suatu saat kelak, mulailah dengan cara sederhana: perkayalah pengalaman membaca kita. Bacalah sebanyak mungkin, dan perlahan-lahan dengan sendirinya akan membuat kita terbiasa untuk membedakan karya yang berkualitas dan patut kita baca dengan yang tidak.

Tetaplah membaca, tetaplah menulis! 

Minggu, 02 Agustus 2015

MENULIS DAN JALAN-JALAN

Apakah keterikatan antara menulis dan traveling? Menurut saya ada dan justru sangat berketerikatan sekali. Kenapa? Berikut penjelasannya.


Sebelum travelling populer, Gola Gong sudah bercerita tentang itu di seri Balada si Roy-nya
(sumber: keluargapengarang.wordpress.com)
Jadi penulis mungkin adalah pekerjaan yang enak nggak enak. Enak, karena jelas mereka yang bertahan untuk jadi penulis adalah mereka yang benar-benar mencintai pekerjaannya. Mengerjakan apa yang kita cinta jelas sesuatu yang menyenangkan. Saya sendiri selalu bercita-cita bahwa suatu saat nanti saya hanya akan menulis setiap hari dan orang-orang membayar saya untuk itu. Entah kapan, mungkin saat saya sudah memasuki usia pensiun kelak. Ketika materi sudah bukan lagi hal utama.

Nah bagian nggak enaknya adalah bahwa menjadi penulis berarti kita harus menjadi orang yang segala tahu. Apalagi bagi penulis fiksi. Memang sih bagi penulis fiksi, yang menjadi unsur utama dari karya penulisannya memang adalah khyalan dan imajinasi. Namun bukan berarti hal tersebut mudah. Terlebih lagi khayalan dan imajinasi tersebut asalnya lahir dari pengalaman dan pengetahuan. Karena itu, bahkan penulis fiksi yang surealis sekalipun tetap harus banyak tahu. Bahkan bisa jadi membutuhkan pengetahuan yang lebih.

Karena itulah menurut saya ada tiga hal yang menjadi kebutuhan seorang penulis. Jika tiga hal ini tidak terpenuhi maka bisa-bisa si penulis akan mengalami kekurangan nutrisi. Ketiga hal tersebut adalah banyak membaca, banyak bersilaturahmi dan banyak berjalan. Mengapa ketiga hal ini penting? Salah satunya karena dari ketiga hal inilah biasa bermunculan ide-ide yang akan menjadi sebuah karya disaatnya nanti.


Memutuskan menjadi penulis, berarti siap membuka diri...
(sumber: ceritamedan.com)
Nah traveling adalah salah satu kegiatan yang menurut saya mencakup ketiga hal tersebut. Coba tanya deh dengan para traveler yang sering jalan-jalan ke banyak tempat, ketiga hal tersebut pasti mereka lakukan ketika melakukan perjalanan. 

Saat melakukan perjalanan, para traveler diharuskan membaca banyak informasi mengenai tempat yang hendak dituju. Mulai dari seperti apa tempat yang dituju, bagaimana cara ke sana, apa-apa saja yang menarik di sana, dan segala macamnya. Memang ada beberapa orang traveler yang mengaku asal jalan saja, namun percayalah merekapun tidak lepas dari kegiatan membaca dan menemukan informasi-informasi baru.

Bertemu dengan orang-orang baru dan budaya yang berbeda juga bisa kita dapatkan dengan traveling. Menjadi penulis berarti harus mau membiarkan fikirannya terbuka menerima informasi dan bertemu dengan banyak tipe manusia adalah salah satu cara untuk melakukannya. Percayalah, mempelajari manusia dengan cara berinteraksi bersama mereka adalah sesuatu yang sangat menyenangkan. Siapa tahu salah satu diantaranya bisa dijadikan tokoh untuk salah satu karya kita.

Dan pergi ke banyak tempat-tempat baru yang belum pernah kita kunjungi sebelumnya tentu juga akan membantu seorang penulis. Memang benar bahwa banyak cara untuk menggambarkan sebuah tempat yang asing. Dengan studi pustaka misalnya. Namun dengan mendatangi langsung tempatnya tentu akan membuat karya yang dihasilkan akan lebih hidup dan akurat. Contoh saja misalnya Kang Habiburrahma El Shirazy yang sukses menggambarkan gimana hidup para mahasiswa Indonesia di Kairo. Hal ini tentu salah satu yang terbesarnya berkat pengalaman Kang Abik sendiri yang pernah kuliah di Kairo sana.

Karena itulah, seorang penulis harus rajin-rajin traveling. Dengan begitu, dia tidak akan kehabisan ide dan pikirannya akan selalu segar untuk kembali menulis. Apalagi menulis adalah perkerjaan yang bisa dikerjakan dimana-mana. Sambil berjalan-jalan, ia bisa tetap menulis. Jadi, mari menulis! Mari traveling!


Baca apa saja, berjalan sejauh-jauhnya dan bertemulah banyak orang....
Copyright © 2014 SANTOSA-IS-ME