Tampilkan postingan dengan label Pontianak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pontianak. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 Maret 2016

MERAYAKAN KREATIVITAS DI PONTIANAK PROLOC MARKET

Pontianak mungkin hanya sebuah kota kecil di pesisir barat Kalimantan. Tidak setiap hari kita menemukan beritanya di televisi-televisi nasional atau perbincangan para pejabat elit. Membandingkannya dengan kota seperti Jakarta, Bandung, Yogya atau Surabaya, jelas tidak apple to apple.

Bicara soal kreativitas, perkembangan industri kreatif di kota-kota besar tersebut tampak kian signifikan. Terbukti pemerintah sampai harus membentuk kementrian pariwisata dan ekonomi kreatif yang salah satu tugasnya adalah mengembangkan industri kreatif di negeri ini. Pontianak? Tak semapan industri kreatif di kota-kota besar memang, tapi geliat pertumbuhannya kian tampak.

Welcome to Pontianak Proloc Market
(sumber gambar : dok pribadi)
Ini mungkin hanya opini, namun sepengamatan saya sih, industri kreatif pontianak memang masih tampak jadi pengekor kota-kota besar. Apa yang sedang jadi trend di kota-kota besar coba dibawa ke Pontianak. Beberapa sukses, tidak sedikit juga yang menyerah kalah dan hilang lenyap ditelan persaingan. Burukkah? Tidak juga. Namanya juga industri yang baru berkembang, Pontianak sedang berproses. Buktinya semakin ke sini, unsur-unsur lokalitas semakin “terpampang nyata.” *Syahrini mode ON*

Bukti kekinian salah satunya bisa dilihat saat mengunjungi event bertajuk Pontianak Proloc Market yang dihelat pada 16-20 Maret 2016. Bertempat di halaman parkir Pontianak Convention Centre dan berbarengan dengan penyelenggaraan Borneo Ekspo 2016 (yang menempati gedung utama PCC), event ini adalah tempat berkumpulnya para produsen produk kreatif lokal lintas bidang. Meski penyelenggaraannya masih terkesan sederhana, namun antusiasme  yang ditunjukkan baik dari para pemilik usaha, pengisi acara maupun masyarakat kota Pontianak sangat luar biasa.

Dari kuliner, pomade, hingga robot...
(sumber gambar: dok pribadi)
Geliat kreativitas itu tampak dari stand-stand yang mewakili berbagai merek lokal. Saya juga melihat beberapa stand milik beberapa start-up lokal yang bergerak dibidang IT, sebuah penanda bahwa Pontianak siap mengejar Bandung atau Jakarta yang telah mencanangkan diri sebagai smart city. Ada pula stand yang menjual berbagai handycraft  seperti ukiran kayu, ukiran perak, hingga berbagai distro yang tampil dengan ciri khasnya masing-masing.

Yang tidak kalah menariknya adalah gelaran ini memberikan tempat pula bagi para pekerja kreatif. Bahkan beberapa penulis asal Pontianak menjadikan Pontianak Proloc Market ini sebagai momen peluncuran buku mereka. Ternyata geliat kepenulisan di Pontianak begitu masif. Mereka bahkan mencanangkan akan memecahkan rekor menerbitkan 1000 buku pada tahun 2016 ini.

Tidak hanya dunia kepenulisan, pekerja kreatif lainnya juga mendapat tempat. Sederet foto yang menyambut pengunjung dipintu masuk adalah hasil jepretan tangan-tangan profesional asal Pontianak. Dunia perfilman terwakili dengan pemutaran film “Mira,” sebuah film feature buatan sineas muda lokal. Film ini kabarnya sempat diputar secara terbatas di beberapa kota besar di Indonesia. Suguhan dari penampil lokalpun sudah pasti jadi pelengkap acara. Sayang saya tidak mengetahui kapan Cofternoon, band lokal favorit saya naik panggung.

Masuk-masuk dihadang hasil jepretan keren fotografer Pontianak
(sumber gambar: dok pribadi)
Nah bicara tentang pekerja kreatif, Pontianak Proloc Market juga tampaknya jadi ajang memperkenalkan profesi-profesi kreatif baru di masyarakat. Teman saya seorang food review dan pemilik blog tukangjalanjajan.com, menjadi salah satu pembicara dalam acara tersebut. Seperti yang kita tahu, perkembangan zaman membuat munculnya jenis-jenis profesi baru di masyarakat. Siapa duga sekarang orang bisa mencari duit hanya dengan nge-blog atau bermain media sosial. Dan asal tahu saja, sudah banyak anak Pontianak yang berhasil melakukannya.

Event ini mungkin hanya gambaran kecil tentang pertumbuhan industri kreatif anak-anak Pontianak yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Memang masih banyak potensi kreativitas ataupun brand-brand lokal yang belum terakomodir oleh penyelenggaraannya. Namun setidaknya, Pontianak Proloc Market ini sebuah langkah maju untuk terus mendorong keberanian berkreasi anak-anak lokal Pontianak. Suntikan semangat dan kode keras pula bahwa para kreator Pontianak siap bersaing di kancah nasional bahkan tidak menutup kemungkinan hingga Internasional.

Pengunjungnya rame, tanda antusias masyarakat tinggi...
(sumber gambar : dok pribadi)
Setahu saya sih beberapa tahun belakangan tak banyak ajang yang memang secara terang-terang melabeli diri sebagai tempat berkumpulnya produsen produk kreatif lokal sebagai mana event ini. Jika sukses, tentu ini adalah awalan untuk membuatnya event serupa yang jauh lebih besar tahun depan, lebih megah dan tentu saja lebih penuh kreativitas.


Mungkin seperti halnya hari raya Idul Fitri untuk Muslim, Natal untuk Nasrani, atau Imlek untuk etnis Tiong Hoa, Pontianak Proloc Market bisa jadi adalah hari raya buat para kreator-kreator lokal pontianak. Tempat untuk saling bersilaturahmi dan juga kesempatan untuk memperkenalkan produknya kepada khalayak yang lebih luas. Sebuah cara bagi anak-anak muda Pontianak untuk merayakan kreativitas mereka.
Selamat merayakan kreativitas...
(sumber gambar : dok pribadi)

Minggu, 03 Januari 2016

SARAWAK EKSPO, CARA MALAYSIA BERPROMOSI WISATA

Kalimantan memang pulau yang unik. Salah satu pulau terbesar di dunia ini, dihuni oleh 3 negara berbeda yang berbagi daratan bersama, Brunei Darussalam, Malaysia, dan tentu saja Indonesia. Karena itulah "jalan-jalan ke luar negeri" bukan sesuatu yang terlalu luar biasa. Apalagi untuk mereka yang tinggal di perbatasan. Barangkali mereka bisa bolak-balik antar negara berkali-kali dalam satu hari.

Saya sendiri pernah melakukan perjalanan dari Pontianak (Kalimantan Barat, Indonesia) menuju Kuching (Sarawak, Malaysia). Membutuhkan waktu hampir semalaman untuk akhirnya bus yang saya tumpangi tiba di Kuching Sentral, terminal bus antar negara di Kuching. Selain lama, namun juga tidak mudah karena kondisi jalan yang cukup tidak ramah. Kerusakan di sana-sini bukan perkara sulit untuk dijumpai sepanjang perjalanan. Tapi angkutan bus antar negara adalah alternatif murah untuk bisa jalan-jalan ke luar negeri. Jika datang berombongan, menyewa kendaraan bisa jadi pilihan lainnya. Beruntung buat yang punya kendaraan pribadi, asalkan tahu rute dan memiliki paspor, perjalanan bahkan bisa jauh lebih hemat lagi.

Sayangnya pengalaman saya pergi ke Kuching sebelumnya tidak memberi kesempatan untuk mengeksplor kota yang jadi ibukota negara bagian Sarawak itu. Kedatangan saya hanya untuk transit menuju bandara lalu melanjutkan terbang ke Kuala Lumpur. Karena itulah, pengalaman perjalanan saya di Kuching hanyalah sebatas dari Kuching Sentral ke Kuching International Airport yang jaraknya sangat dekat dan masih bisa dicapai dengan berjalan kaki.

Karena berbagi daratan inilah, sudah selayaknya ketiga negara ini menjadikan negara tetangganya (terutama untuk wilayah yang berbatasan) sebagai target kedatangan wisatawan. Oleh sebab itulah, tidak heran jika pemerintah masing-masing berlomba-lomba menawarkan berbagai macam model paket wisata. Saya tidak tahu pemerintah Indonesia dan Kalimantan Barat, tapi itulah yang dilakukan oleh Sarawak Tourism Board yang mengadakan Sarawak ekspo di Ayani Mega Mall Pontianak, selama 2 hari pada 28-29 November 2015 kemarin.
Stand utama Sarawak Tourism Board.
(sumber: tukangjalanjajan.com)
Malaysia untuk ukuran asia tenggara boleh dibilang menjadi salah satu negara tujuan kunjungan wisata utama, mungkin hanya kalah dari Thailand (dan Bali, jika seandainya Bali adalah sebuah negara) yang namanya memang sudah kesohor hingga eropa dan amerika. Satu hal yang menarik adalah keberhasilan pemerintah Malaysia mengembangkan pariwisatanya secara merata. Memang Kuala Lumpur, Genting, Penang dan Johor Baharu masih jadi primadona wisata Malaysia. Namun di kota-kota lainpun pariwisatanya mulai menggeliat. Salah satunya adalah Sarawak yang berada di bagian utara Kalimantan Barat, provinsi yang saya tinggali.

Menghadiri Serawak Ekspo kemarin menunjukkan kepada saya betapa pemerintah Sarawak begitu serius mengelola pariwisatanya. Begitu mudah mendapatkan informasi dan peta berbagai tempat menarik yang bisa dikunjungi baik di seluruh Malaysia maupun Sarawak pada khusunya. Semua marketing tool-pun dibuat demikian menarik dan mudah difahami.

Selama ini saya sendiri hanya mengetahui Kuching sebagai tempat tujuan yang bisa dikunjungi di Sarawak sana. Nyatanya, berdasarkan Sarawak Visitor's Guide yang saya dapat ada banyak tempat menarik lainnya yang layak kunjung bagi para turis. Objek wisata yang ditawarkanpun terbilang beragam, mulai dari wisata budaya, sejarah hingga wisata ekologi. Dengan hutan yang masih sangat asri (yang seharusnya di Indonesia juga ada) dan masyarakat lokal yang bersahabat, wisata ekologi ini cukup menarik minat banyak wisatawan.

Sarawak sendiri secara garis besar dapat dibagi dalam 3 bagian yaitu Sarawak Barat Daya dengan kota penting seperti Kuching, Sentubong, Samarahan dan Sri Aman. Sarawak Tengah dengan kota Sibu, Sarikei dan Mukah, serta Sarawak Timur Laut dengan Miri dan Bintulu sebagai dua kota terbesarnya. Kuching sebagai kota terbesar di Sarawak punya banyak landmark yang layak untuk dikunjungi. Wisata budaya terwakili dengan mengunjungi situs budaya Cultural Village yang ada tak jauh dari Damai Beach. Suka Dayak Iban dan Bidayuh yang ada di Sarawak juga memiliki rumah panjang dan kekayaan budaya yang bisa dinikmati para turis. Berbagai taman nasional layak pula jadi pilihan untuk para penikmat wisata ekologi dan alam liar. Berbagai pantai dan wisata bahari mulai dari Sentubong hingga Miri melengkapi penawaran wisata di Sarawak.

Kalender event wisata di Sarawak juga menjadi salah satu hal yang layak menjadi pertimbangan rencana wisata. Rainforest World Music Festival yang berlangsung sekitar bulan Agustus telah memiliki nama tingkat Internasional. Saya melihat sendiri dalam gambar bergerak yang ditayangkan di ekspo tersebut bagaimana suasana kemeriahan salah satu event musik yang sepertinya layak untuk dikunjungi, terutama buat pencinta musik dengan aroma budaya. Selain itu ada pula, Borneo Jazz, Gawai Dayak, Borneo Cultural Festival, serta berbagai event yang berlangsung sepanjang tahun.


Brosur wisata yang lengkap dan informatif
(sumber: tukangjalanjajan.com)
Menyadari kunjungan ke Sarawak dari Pontianak tidak hanya dominasi oleh para turis, Sarawak ekspo juga hadirkan stand dari Rumah Sakit dan Universitas di Sarawak. Bukan rahasia lagi, jumlah warga Pontianak yang berobat ke RS di Sarawak terbilang cukup signifikan. Untuk universitas asal Sarawak sendiri mungkin belum jadi salah satu pilihan untuk muda-mudi Pontianak. Namun siapa tahu, dengan diselenggarakannya ekspo ini angka warga Indonesia yang belajar ke Malaysia khususnya di Sarawak akan meningkat. Selain itu, Sarawak Ekspo juga hadirkan Travel Agent dan maskapai penerbangan dari dan ke Sarawak. Dari sinilah saya baru tahu, ternyata harga tiket pesawat Pontianak-Kuching terbilang cukup murah.

Sarawak Ekspo adalah bukti bagaimana Malaysia begitu serius mengembangkan wisatanya bahkan untuk wilayah seperti Serawak yang bukan main land dari negara tersebut. Tidak heran, di tahun 2013, Malaysia dengan kampanye "Malaysia, Truly Asia"-nya berhasil masuk dalam 10 besar negara dengan kunjungan tertinggi pada tahun tersebut.

Saya sendiri yakin, Indonesia punya kekayaan yang lebih hebat dari negara sebelah itu. Yang perlu dilakukan sekarang hanyalah maukah kita sedikit merendahkan diri dan serius belajar pada negara sebelah yang mau tidak mau harus kita akui, lebih sukses membangun dan mempromosikan pariwisatanya ketimbang kita.
Ramainya pengunjung ekspo.
(sumber: tukangjalanjajan.com)

Senin, 12 Oktober 2015

TALKSHOW KESEHATAN MATA DAN GIGI DARI MITRA MEDIKA

Masa pertumbuhan adalah masa-masa untuk anggota tubuh seorang anak untuk terus mengalami perubahan. Pada masa inilah sedikit demi sedikit organ tubuh mengalami penyempurnaan hingga kemudian berhenti ketika si anak tiba di akhir masa pertumbuhan.
Mata dan gigi adalah dua organ yang mengalami pertumbuhan paling signifikan sepanjang usia pertumbuhan. Pada saat dilahirkan, seorang anak hanya memiliki kemampuan pandangan yang sangat terbatas hingga hanya memungkinkan melihat sampai pada wajah ibu ketika si anak sedang di gendong di dada. Begitupun organ gigi, pada saat dilahirkan bayi tanpa gigi. Kemudian akan tumbuh gigi yang dikenal dengan gigi susu. Gigi-gigi susu ini kelak pada waktunya akan rontok dan digantikan dengan gigi dewasa yang akan kita miliki hingga usia senja kelak.

Meski pertumbuhan dan perubahan pada mata dan gigi adalah hal yang alami, namun bukan berarti proses pertumbuhan ini tidak perlu diberi perhatian khusus. Penyimpangan dan ketidak normalan ini sudah jamak sekali terjadi, karena itulah idealnya orang tua harus rutin memeriksakan anaknya ke dokter untuk memastikan berjalannya proses pertumbuhan ini sesuai dengan yang diharapkan.

Contohnya adalah dalam proses pergantian dari gigi susu menuju gigi dewasa. Karena seringkali rontoknya gigi susu ini tidak terjadi dalam waktu bersamaan, maka pertumbuhan gigi dewasa yang permanen ini jadi tidak sempurna. Inilah yang banyak orang menyebutnya sebagai ginsul. Pada beberapa orang ini tidak terlalu menjadi masalah, namun pada beberapa orang lainnya justru sangat mengganggu terutama dari segi penampilan.

Tentu hal ini masih bisa diperbaiki dengan bantuan medis. Namun sayangnya, karena ingin menghemat biaya ataupun karena pengetahuan yang kurang, banyak pasien yang mengalami gangguan pada mata maupun gigi memilih jalan yang tidak tepat. Seperti pada kasus gigi tidak rata, banyak yang menggunakan kawat gigi tanpa ada pengawasan dokter. Atau dalam kasus rabun mata, menggunakan kontak lensa yang tanpa rekomendasi dokter. Hal ini bisa jadi bukannya membantu, namun malah semakin memperparah kondisi anak.

Untuk memberi pemahaman dan informasi lengkap kepada masyarakat itulah Rumah Sakit Mitra Medika Pontianak mengadakan Talk Show kesehatan yang khusus membahas dua hal ini. Pembicara pertama adalah drg. Julvan GM Nainggolan, Sp.Ort yang akan menjabarkan secara khusus tentang "Gigi sehat pendukung tumbuh kembang anak," dan "Kawat gigi dalam pandangan estetika dan kesehatan." Dengan demikian harapannya adalah agar orang tua memperhatikan kesehatan gigi anak serta memahami benar tentang pemakaian kawat gigi tidak hanya untuk tujuan estetika namun juga medis.

Jangan sampai terlewat tanggalnya....
(sumber gambar: mitramedikahealthcare.com)
Sementara pembicara kedua dr. Nassa Rachmatika, Sp.M bakalan bicara seputar "Deteksi dini dan penanganan masalah mata pada anak," serta "Deteksi dan penanganan selaput mata (pterigium)." Harapannya orang tua dapat mengetahui beberapa gangguan mata pada anak yang sering terjadi dan bagaimana seharusnya hal ini diatasi.

Talkshow kesehatan ini akan dilaksanakan pada hari sabtu, 24 Oktober 2015 dari pukul 09.00 WIB hingga pukul 12.00 WIB. Bertempat di lantai 5 RS Mitra Medika Pontianak, Jln. Sultan Abdurrahman No.25 Pontianak.

Pendaftaran dapat dilakukan melalui sms ke nomer 0812 5010 4688 atau telepon ke nomer 0561-584888. Acara ini terbuka untuk umum dan gratis, namun diwajibkan untuk melakukan pendaftaran terlabih dahulu karena tempat terbatas.

Nah, butuh alasan apa lagi untuk ikutan? Bakal dapat informasi kesehatan yang sangat bermanfaat, gratis pula. Tidak bakalan rugi. Apalagi juga akan ada souvenir menarik, doorprize khusus, serta snack dan makan siang. Belum cukup, di tempat acara juga bakalan ada konsultasi kawat gigi gratis. Jadi catat baik-baik tanggal acaranya, jangan sampai kelewatan.

Informasi lebih lengkapnya bisa kunjungi website RS Mitra Medika Pontianak di www. mitramedikahealthcare.com

Senin, 28 September 2015

PONTIANAK: DARURAT KABUT ASAP

Sudah berjalan hampir beberpa pekan. Namun kondisi cuaca di beberapa daerah di Indonesia belum juga membaik. Termasuk juga Pontianak. Kondisi cuaca yang saya maksud adalah tentu saja merujuk pada kabut asap yang tidak juga berhasil diselesaikan.

Sebenarnya memang banyak faktor yang menyebabkan dampak kabut asap pada tahun ini menjadi cukup parah. Salah satunya gangguan iklim yang kita kenal dengan nama El Nino. Dampak El Nino sendiri terhadap perubahan cuaca global terutama Indonesia adalah terjadinya kekeringan dan menurunnya curah hujan secara signifikan. Mengutip dari pernyataan yang dirilis BMKG pada bulan Juni kemarin, musim penghujan di Indonesia yang biasanya sudah mulai di bulan September, untuk tahun ini bisa jadi mundur hingga November bahkan Desember sebagai dampak El Nino.

Gambaran el nino yang biasa melanda indonesia dan sebabkan kekeringan
(sumber gambar: nasional.sindonews.com)
Namun kita juga tidak bisa sepenuhnya menyalahkan alam sebagai kambing hitam dari masalah asap ini. Ketidak sanggupan pemerintah untuk menertibkan para pembakar lahan juga masih menjadi catatan merah padahal kebakaran lahan terjadi setiap tahun dan terus berulang. Ketimbang memperdebatkan siapa yang lebih patut disalahkan antara para petani tradisional atau pemilik perkebunan, harusnya pemerintah sudah punya data sendiri dan mengkaji permasalahan ini agar tidak muncul kembali.

Jujur, awalnya sebagai masyarakat pontianak, saya beranggapan untuk tidak mengeluh. Terlebih sebagai sesuatu yang terus datang berulang, saya dan masyarakat Pontianak mungkin sudah cukup bisa berdamai dengan kabut asap. Walau jelas akan banyak kerugian yang dirasakan. Saya sangat setuju dengan pendapat salah seorang penulis negeri ini yang ikut berkomentar ketika pemerintah negeri ini ngomel-ngomel ketika negeri tetangga protes oleh kabut asap yang kita hasilkan. Menurut saya, ketimbang ngomel-ngomel, harusnya pemerintah minta maaf dengan rakyatnya karena belum juga berhasil mencari solusi menangani kabut asap ini. Bayangkan pemerintah Singapura dan Malaysia yang hanya terkena asap kiriman saja sedemikian khawatir dengan rakyatnya sehingga sampai merasa perlu melayangkan protes kepada Indonesia, apalagi yang dirasakan oleh rakyat negeri ini di Kalimantan dan Sumatra yang menjadi pusat dari segala kejadian ini.

Bayangkan, di kota Pontianak saja, Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) nyaris selalu berada di level yang sangat berbahaya. Seluruh masyarakat dipaksa harus bernafas dengan oksigen yang bercampur asap. Akibatnya banyak sekolah diliburkan. Penderita ISPA-pun meningkat.  

Pengalaman buruk lainnya adalah gangguan dalam penyelenggaraan transportasi udara. Hal ini saya alami langsung. Hari minggu kemarin (27/9), nyaris semua penerbangan menuju Pontianak dibatalkan. Ribuan penumpang terpaksa luntang-lanung tanpa kejelasan. Termasuk juga saya yang harus terjebak di Bandara Soekarno-Hatta nyaris seharian. Jadwal penerbangan saya yang jam 11 pagi, ditunda sampai batas waktu yang tidak ditentukan dan kemudian dibatalkan. Jarak pandang kota Pontianak dibawah dibawah 500 meter yang tidak memungkin penerbangan dilakukan.

Saya yang harus kerja kembali esoknya dibuat ketar-ketir. Bagaimanapun saya harus pulang pada hari itu juga. Reschedule yang diberikan oleh maskapai hanya memberikan opsi penerbangan pada hari berikutnya yang tidak mungkin saya ambil. Terpaksa saya mencari tiket baru untuk penerbangan malam itu juga yang pasti akibatnya harga tiket melonjak menjadi dua kali lipat. Itupun tanpa kepastian bahwa pesawat akan benar-benar berangkat. Untungnya akhirnya pesawat benar-benar berangkat, meski membuat saya harus rugi waktu dan rugi pula secara finansial. Dan yang melakukan tindakan seperti yang saya lakukan tidak cuma saya sendiri, beberapa yang bernasib sama juga terpaksa melakukannya. Pun mereka yang memilih reschedule menjadi esok hari, juga tetap harus mengeluarkan biaya untuk akomodasi dan transportasi tambahan serta pula tidak dapat dipastikan akan bisa benar-benar terbang pada keesokan harinya.


Buat yang berencana ke Pontianak, siapkanlah diri menerima delay dan pembatalan penerbangan
(sumber gambar: koleksi pribadi)
Di hari yang sama itu pula beberapa kegiatan yang dilaksanakan oleh teman-teman event organizer yang saya kenal juga mengalami pembatalan. Sebabnya pengisi-pengisi acara mereka juga tidak berhasil menjangkau Pontianak. Tentu saja ini juga merugikan secara materil. Berapa dana yang dibutuhkan untuk menyiapkan sebuah acara namun kemudian terpaksa batal. Beberapa teman baru dikenal yang saya temui dalam penantian panjang delay pesawat saya pun mengeluhkan bagaimana kepentingan-kepentingan mereka bakal terganggu dengan kabut asap yang membuat dibatalkannya banyak penerbangan ini. 

Sungguh, kerugian langsung dari kabut asap ini mungkin sudah mencapai jumlah yang tidak terperkirakan lagi. Belum lagi kerugian tidak langsung, yang jumlahnya bahkan bisa tidak masuk akal baik secara materil dan non materil. Pemerintah juga pasti sedang berusaha menyelesaikan semua masalah ini. Namun jelas kita berharap bencana kabut asap ini bisa ditangani secara berkesinambungan.

Kemarin saya sempat ngobrol dengan Rudi Zapariza, Project leader WWF-Indonesia program Sintang, Melawi dan Kapuas Hulu. Beliau menegaskan bahwa masalah kabut asap ini seharusnya bisa dihadapi dengan lebih siap oleh pemerintah. Terlebih peringatan akan kemungkinan El Nino ini sudah datang jauh-jauh hari. Sudah seharusnya pemerintah menyiapkan langkah-langkah preventif agar kebakaran lahn tidak terjadi.

Selain itu menurut beliau, penanganan kabut asap ini harus berkesinambungan dan menyeluruh. Idealnya penanganan kabut asap ini dilakukan jauh-jauh hari sebelum musim kemarau datang dan melibatkan semua pihak yang berperan terhadap permasalahan ini. Menurutnya jika benar permasalahan asap ini disebabkan perladangan masyarakat lokal, pemerintah harusnya melakukan pembinaan agar pembakaran lahan ini tidak dilakukan. Sementara seandainya memang dilakukan perkebunan-perkebunan besar, sudah selayaknya pemerintah bertindak tegas. Pemerintah seharusnya sudah memiliki data terkait ini dan mampu mengkaji tindakan apa yang harus dilakukan agar bencana kabut asap ini tidak terulang.


Ruzi Zapariza, Project Leader WWF-Kalimantan Barat untuk daerah Sintang, Melawi dan Kapuas Hulu
(sumber gambar: koleksi pribadi)
Demikianlah derita Pontianak ditengah kepungan kabut asap kemarin. Festival titik kulminasi yang biasa diperingati setiap pertengahan september dan menjadi salah satu event pariwisata Pontianak pun urung digelar. Jika sudah seperti ini, siapakah dirugikan? Yang pasti kita semua rugi. Kerugian yang semoga di tahun-tahun kedepannya tidak lagi terulang.

Tulisan ini mungkin hanya keluhan salah seorang warga Pontianak yang merasa kabut asap sudah sangat menyusahkan dan berharap mendapatkan solusi yang lebih baik. Anggap saja sebuah curhat yang tidak jelas ditujukan pada siapa. Namun buat mereka yang tinggal di daerah kabut asap, atau hendak pergi ke daerah terdampak asap, pasti tahu bagaimana tidak nyamannya hidup dalam kepungan asap seperti yang saya alami saat ini. 

Kamis, 10 September 2015

BERDAMAI DENGAN KABUT ASAP

Indonesia mah indah, cuma ke tutup asap...
(sumber gambar: facebook)
Gambar di atas mungkin bukan cuma dirasakan oleh orang Palembang saja, namun juga orang-orang di kota saya, kota Pontianak. Saban tahun, ketika musim kemarau tiba, maka kabut asap akan mulai bermunculan. Makanya sampai ada yang bilang, jika ingin tinggal di Pontianak harus bisa berdamai dengan kabut asap.

Kabut asap memang menjadi masalah tahunan di beberapa daerah termasuk Pontianak dan Kalimantan Barat. Beberapa daerah lain yang berada di Sumatera dan Kalimantan juga mengalaminya, terutama daerah yang memiliki lahan pertanian dan perkebunan. Walau di daerah-daerah tersebut asap memang paling terasa, dampak dari kabut asap ini dirasakan oleh sebagian besar wilayah Indonesia. Bahkan Singapura pernah mengajukan protes akibat asap yang dikirimkan Indonesia ini.

Yang menjadi kambing hitam dari permasalahan kabut asap ini memang adalah petani dan perusahaan yang kerap kali melakukan pembersihan lahan dengan cara membakar lahan. Hal ini terjadi karena memang membakar lahan adalah cara yang paling mudah dan murah untuk menyiapkan lahan. Bahkan konon ada yang percaya bahwa untuk tanah gambut, pembakaran lahan justru akan meningkatkan kesuburan tanah ketika di tanam nanti. Sayangnya upaya ini tidak memperhitungkan dampak negatif yang ditimbulkannya.

Banyak dampak negatif yang dirasakan masyarakat dari kabut asap ini. Dampak paling nyata adalah dari sisi kesehatan. Di Pontianak, selama kabut asap, penderita Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) mengalami peningkatan hingga dua kali lipat. Dampak lain yag paling terasa adalah di industri penerbangan. Jelas akan ada banyak penerbangan yang terpaksa delay bahkan gagal berangkat karena kabut asap. Selain itu banyak aktifitas yang terganggu. Pagi ini saja, di Pontianak aktifitas belajar-mengajar diliburkan karena kabut asap dianggap memasuki taraf berbahaya.

Namun sebagai orang yang tinggal di kota yang memang rutin terkena kabut asap ini, mau tidak mau saya harus bisa berdamai dengan semua ini. Tentu saja yang bisa saya lakukan adalah meminimalisir dampak yang mungkin bisa ditimbulkan oleh kabut asap ini.

Mengurangi keluar rumah

Kabut asap di kota Pontianak sudah memasuki taraf yang berbahaya untuk kesehatan. Karena itu mengurangi keluar rumah adalah cara terbaik yang bisa dilakukan. Waktu yang dianggap paling aman untuk keluar adalah sekitar jam 9 sampai 11 pagi. Di waktu-waktu lain, terlebih malam hari, pagi dan sore sangatlah dianjurkan untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan.

Karenanya dalam situasi kabut asap seperti sekarang, ada baiknya hal-hal yang tidak terlalu penting di luar rumah dibatasi. Selain bisa menjaga kesehatan kita agar terhindar dari ISPA atau penyakit lainnya, kita juga bisa menghemat budget jalan-jalan kita.

Selalu gunakan masker

Namun jikapun kita tidak bisa menghindar untuk keluar rumah, maka senantiasalah gunakan masker. Tujuannya agar organ pernafasan kita tidak terpapar langsung oleh kabut asap yang jelas berbahaya. Mendapatkan masker juga kini sangat mudah. Biasanya di daerah-daerah rawan bencana kabut asap seperti Pontianak, pembagian masker gratis di jalan-jalan raya akan mudah kita dapati. Kalaupun tidak, kita bisa akan mendapatinya di minimarket ataupun apotik terdekat.
Selalu gunakan masker kalau berkunjung di Pontianak saat musim asap...
(sumber gambar: dok. pribadi)
Biasakan hidup sehat

Kabut asap juga biasanya menyebabkan menurunnya kekebalan tubuh. Akibatnya, tubuh jadi mudah terserang berbagai penyakit, terutama yang disebabkan oleh virus. Karena itulah, kita harus mengimbanginya dengan nutrisi yang seimbang. Lakukan gaya hidup yang sehat dengan menghindari rokok dan stress serta beristirahat yang cukup. Seandainya ingin tetap berolah raga, lakukan olah raga yang bisa dikerjakan di dalam ruangan. Dan yang tak kalah penting, perbanyaklah meminum air putih.

Jaga diri dan makanan dari paparan langsung asap

Menghindarkan diri dari asap adalah hal yang juga harus dilakukan. Usahakan agar polusi asap tidak masuk ke dalam ruangan tertutup di rumah, kantor ataupun sekolah tempat kita beraktivitas. Tutup tempat penampungan air yang biasa kita gunakan untuk dikonsumsi. Serta jangan lupa untuk mencuci makanan seperti buah dan sayur dengan bersih. 

Konsultasi ke dokter

Jangan ragu untuk berkonsultasi ke dokter ketika mulai terjadi gejala-gejala gangguan kesehatan. Untuk mereka yang memiliki penyakit jatung ataupun gangguan saluran pernafasan ada baiknya meminta nasihat dokter untuk menghindari dampak buruk. Sekarang pertolongan kesehatan sudah bisa kita dapatkan dengan mudah. Tidak harus ke rumah sakit, ke puskesmas atau klinik terdekat sudah cukup.

Mungkin itu adalah beberapa upaya yang bisa kita lakukan untuk berdamai dengan kabut asap. Terkadang orang-orang seperti saya yang tinggal di daerah yang tiap tahun harus berhadapan dengan bencana ini merasa jengkel juga. Namun toh menggerutu atau memaki pemerintah tidak akan ada gunanya. Satu-satunya hal yang bisa saya lakukan adalah memastikan bahwa saya dan orang-orang terdekat saya bukan salah satu yang menyebabkan bencana kabut asap ini.

Tentu saja sambil berharap kabut asap yang datang dan datang lagi di setiap musim kemarau bisa ditangani oleh pemerintah. Masa nggak bisa? Saya yakin harusnya sih bisa! Bener nggak?
Kabut asap masih tebal selimuti Pontianak...
(sumber gambar: tribunnews.com)

Kamis, 27 Agustus 2015

KARNAVAL KHATULISTIWA 2015

Pontianak mungkin boleh dibilang hanya kota kecil yang berada di pesisir barat pulau Kalimantan. Karena itu, jarang sekali kota saya ini memiliki event-event setingkat nasional.

Untuk event daerah sendiri, kota ini memeliki beberapa di dalam kalender pariwisatanya. Mulai dari titik kulminasi, pekan gawai dayak, cap go meh, hingga perang meriam karbit saat malam takbiran. Namun event-event tersebut skalanya tidak cukup besar. Paling tidak untuk sampai bisa menghadirkan seorang Presiden Republik Indonesia sebagai pembuka acara.

Pak Jokowi ikut serta dalam karnaval...
(sumber: doc pribadi)
Pada akhir pekan kemarin, tepatnya Sabtu tanggal 22 Agustus 2015 kemarin, di Pontianak dihelat sebuah event besar berskala nasional bertajuk Karnaval Khatulistiwa. Event ini diselenggarakan dalam rangka peringatan ulang tahun Republik Indonesia yang ke-70 tahun. Tidak tanggung-tanggung, acara ini menghadirkan Bapak Presiden Jokowidodo berserta Ibu negara Iriana Jokowidodo untuk membuka acara tersebut. 

Aksi akrobatik TNI AD...
(sumber gambar: doc pribadi)
Aksi marching band dari TNI AL...
(sumber gambar: doc pribadi)
Menjaga ketertiban peserta adalah PR panitia kedepannya...
(sumber gambar: doc pribadi)
Atraksi seni suku Dayak....
(sumber gambar: dok pribadi)
Perwakilan dari DKI Jakarta pun hadir dengan kendaraan berbentuk monorel
(sumber gambar: dok pribadi)
Bentuk kegiatan sendiri adalah karnaval yang mengambil dua jenis rute yaitu di beberapa ruas jalan kota Pontianak serta melalui jalur air yaitu melintasi sungai kapuas. Hebatnya, event karnaval ini menghadirkan perwakilan dari 24 provinsi se-Indonesia. Selain itu diikuti pula perwakilan beberapa instansi pemerintah dan BUMN seperti BNPB dan PLN. Tidak hanya itu, event ini juga menyiapkan panggung hiburan rakyat yang menghadirkan beberapa artis ibukota macam Slank, Ello dan para bocah berbakat bentukan Erwin Guttawa, Diatas Rata-rata.

Putri Indonesia Lingkungan 2015 asal Pontianak pun turut serta
(sumber gambar: dok pribadi)
Perwakilan Lantamal XII Angkatan Laut RI...
(sumber gambar: dok pribadi)
Tiap daerah hadir dengan keunikannya masing-masing...
(sumber gambar: dok pribadi)
Serta menampilkan hasil kekayaan daerahnya...
(sumber gambar: dok pribadi)
Dan pastinya kekayaan budaya daerah yang beragam...
(sumber gambar: dok pribadi)
Sebenarnya informasi seputar kegiatan ini cukup terlambat di sosialisasikan. Entah kurang update atau bagaimana, tapi bahkan saya yang berkerja di dunia media baru merasakan hingar bingar kegiatan ini beberapa minggu menjelang hari pelaksanaan kegiatan. Bahkan informasi lengkap mengenai kegiatan dan siapa penyelenggaranya juga sulit untuk diakses.

Namun dengan segala kekurangan yang ada, kegiatan kemarin tersebut terbilang sukses. Walaupun banyak hal-hal dilapangan yang tampaknya tidak diantisipasi secara matang oleh para panitia, namun selayaknya itu menjadi pembelajaran untuk menyelenggarakan event yang lebih baik pada tahun kedepannya. Saya pun berharap semoga kegiatan ini menjadi sebuah event yang berkesinambungan dan semakin membesar sehingga mampu menarik mata banyak orang untuk melihat ke kota kecil di pesisir barat borneo.

Semoga menjadi event yang berkesinambungan dan semakin besar...
(sumber gambar: bulet.in)
Saya percaya Pontianak punya potensi untuk dilirik dan dicintai banyak orang. Dan Karnaval Khatulistiwa ini adalah salah satu jalannya.

Jumat, 31 Juli 2015

BERKENALAN DENGAN PONTIANAK

Mungkin sekitar sepuluh atau dua puluh tahun yang lalu, Pontianak masih dianggap sebagai sebuah kota kecil. Apalagi letaknya di pesisir barat pulau borneo, pulau yang dalam frame orang-orang yang belum pernah menginjakkan kakinya ke sini diidentikkan dengan hutan dan suku-suku pedalaman.

Sekarang, kota ini sudah berkembang sangat pesat. Saya sebagai manusia yang lahir dan besar di kota ini melihat sendiri tumbuh kembang Pontianak, baik manusia maupun bangun infrastrukturnya. Kota saya ini, sudah berubah. Makin ramai tentu saja. Makin metropolis. Makin gaul.

Jl. Tanjungpura Pontianak tahun 90-an
(sumber: herlansaja.wordpress.com)
Sedikit informasi mengenai kota saya ini. Pontianak adalah ibukota provinsi Kalimantan Barat. Dalam bahasa mandarin disebut juga dengan Khuntien. Di dirikan pada tanggal 23 Oktober 1771 oleh sultan Pontianak yang pertama, Sultan Syarif Abdurrahman Al-Qadrie. Sudah cukup tua, bukan?

Asal muasal penamaan kota ini cukup menarik. Konon kisahnya bermula dari perjalanan Sultan Syarif Abdurahman yang menyusuri sungai Kapuas untuk mencari daerah untuk mendirikan kesultanan.Tiba di daerah yang kini dikenal sebagai Batu Layang, sang sultan dan pengikutnya mendapat gangguan dari hantu kuntilanak (dalam bahasa melayu lama disebut Pontianak). Sang sultan beserta pasukannya lantas memerangi hantu Pontianak sekaligus membabat hutan untuk dijadikan lahan pemukiman. Sampai di persimpangan sungai Kapuas dan sungai Landak, Sultan Syarif Abdurrahman kemudian mendirikan Masjid dan Istana kesultanan. Dan jiwa besar sang Sultan kemudian menamai kota yang baru didirikannya itu justru dengan nama sang musuh bebuyutan. (Sumber: Wikipedia)

Masjid Jami', bangunan pertama yang didirikan oleh Sultan
(sumber: bimasislam.kemenag.go.id)
Terlepas dari kebenaran mitos tersebut, Pontianak adalah kota pelabuhan terpenting dan teramai di pesisir barat Kalimantan. Sungai kapuas yang membelah kota ini, merupakan denyut nadi utama Pontianak. Saya sendiri lahir di sebuah kampung kecil tepat di pinggir sungai Kapuas, jadi merasakan benar betapa sungai tersebut begitu vital dalam kehidupan sehari-hari masyarakat sekitarnya.

Soal demografi, kota Pontianak sangat idientik dengan budaya melayu. Namun selain melayu, Tiong hoa juga cukup dominan di kota ini terutama terpusat di daerah-daerah pecinan. Selain dua unsur etnis tersebut, dayak, jawa, madura, bugis serta berbagai suku-suku lainnya juga memberi warna tersendiri bagi kota saya ini. Sehingga bisa saja banyak hal-hal yang cuma bisa ditemui di Pontianak saja, tidak di tempat lain. 

Satu lagi, kota Pontianak juga terkenal panas. Karena apa? Salah satu sebabnya adalah karena kota ini dilalui oleh garis khatulistiwa. Karena itu, jika berkesempatan datang ke Pontianak, jangan lewatkan untuk mampir ke tugu penanda garis Equator. Tugu bersejarah yang membelah bumi utara dan selatan.

Kota yang dilalui oleh garis Khatulistiwa
(sumber: Wikipedia)
Pontianak tidak akan ada habis-habisnya untuk diceritakan. Yang pasti, kota ini terus berkembang dan akan semakin berkembang. Masih banyak potensi yang belum tergarap maksimal. Bahkan bukan tidak mungkin Pontianak bisa jadi sentra bisnis yang tidak kalah dari Jakarta atau kota-kota besar lainnya di Indonesia. Buktinya saja kini, banyak para pengembang properti ternama di ibukota mulai menjadikan Pontianak sebagai tujuan pengembangan sayapnya selanjutnya.

Bagaimana, Pontianak menarik bukan?
Copyright © 2014 SANTOSA-IS-ME