Tampilkan postingan dengan label Buisness & Marketing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buisness & Marketing. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 Mei 2016

LEGITNYA BISNIS PENGIRIMAN, SEBUAH CERITA DARI BUJANG KURIR DAN JNE EXPRESS

Sepertinya bisnis kurir-mengkurir sedang ngehits belakangan ini. Dalam dua pekan ini saya bertemu dengan pelaku usaha ini yang bercerita gimana program-program mereka untuk terus mendulang sukses dalam dunia antar-mengantar.

Dua pekan lalu saya berkenalan dengan Rizky, owner Bujang Kurir, jasa pengantaran lokal Pontianak yang bermoto "Adek Pesan, Abang Antar." Saat bercerita, usahanya ini sudah memasuki bulan kesepuluh. Dengan sembilan orang armada dan dua orang operator, Bujang Kurir kini perbulannya mengantarkan hingga lebih ke seribu pelanggan. 
Bersama Rizky, owner Bujang Kurir
(sumber gambar : dokumentasi pribadi)
Meski hanya mengakomodir pesanan dalam kota, Bujang Kurir ternyata punya pangsa pasar sendiri. Menyadari omset terbesarnya datang dari mengantarkan pesanan makanan, Bujang Kurir lantas membangun sinergi dengan pengusaha-pengusaha rumah makan. Dengan begitu pengusaha rumah makan tidak perlu menyediakan armada untuk menyediakan jasa pesan-antar.  

Diakuinya, ide awal memulai Bujang Kurir adalah meniru kesuksesan GoJek di beberapa kota besar di Indonesia. Namun menurutnya, seiring berjalannya waktu, ia terus berusaha menyesuaikan dengan pasar Pontianak yang jelas berbeda dengan kota-kota besar lainnya. Pontianak punya karakteristiknya sendiri, karena itulah di awal, butuh waktu baginya menemukan formula yang tepat untuk bisnis jasa satu ini. Rizky mengaku ia sempat melakoni sendiri peran sebagai kurir, operator dan manajemen sekaligus diawal memulai usahanya dulu.

Lain Bujang Kurir, lain pula JNE. Sebagai salah satu penguasa pasar jasa pengiriman dan logistik nasional, JNE terus berinovasi untuk terus mengembangkan bisnisnya. Perkembangan tekhnologi yang demikian pesatnya, mau tidak mau juga membuat JNE mau beradaptasi. Sekedar mengandalkan nama besar untuk terus bertahan jelas bukan pilihan bijak. Karena itulah JNE berusaha untuk semakin ramah dengan tekhnologi.


Kopdar MY JNE yang dihadiri oleh para blogger, awak media dan pelaku UKM
(sumber gambar : dokumentasi pribadi)
Salah satunya dengan meluncurkan aplikasi My JNE. Aplikasi ini membantu para pelanggan JNE untuk melakukan banyak hal. Mulai dari pengecekan tarif, menemukan outlet JNE terdekat, tracking barang kiriman, hingga My COD Wallet yang tidak ubahnya seperti rekening bersama. Dengan JNE yang berada di dalam genggaman, membuat kemudahan berkirim-barang jadi sesuatu yang semakin nyata. 

Begitulah Mayland Hendar Prasetyo, Marketing Communication Division JNE bercerita bagaimana IT development menjadi salah satu fokus perhatian JNE. Saya beserta awak media dan para blogger kota Pontianak diundang dalam acara Kopdar My JNE pada senin (26/4) kemarin. Kopdar ini juga menjadi ajang bagi para pelaku usaha perdagangan daring untuk mengenal lebih jauh layanan-layanan yang dimiliki oleh JNE.

Mayland mengakui perkembangan perdagangan online dan e-commerce saat ini berdampak besar bagi usaha jasa pengiriman. Kehadiran banyak e-commerce dan pedagang online kini membuat batasan-batasan atas transaksi semakin memudar. Karena itulah jasa pengiriman dan logistik seperti JNE menjadi kian signifikan. E-commerce yang menyerbu Indonesia-pun tak cuma yang datang dari dalam negeri, beberapa e-commerce luar yang sudah punya nama mulai melirik pasar Indonesia. Jual-beli online sekarang sudah menjadi gaya hidup baru.
Mengecek tarif bisa dilakukan dengan aplikasi My JNE
(sumber gambar : dokumentasi pribadi)
Di Pontianak saja misalnya, ia mengatakan bahwa tiap harinya ada enam ton barang masuk. Kebanyakan adalah produk elektronik alias gadget kemudian disusul produk fashion dan kosmetik wanita. Sementara produk keluar dari Pontianak jumlahnya hingga dua ton perhari. Ketimpangan ini menunjukkan masih belum kuatnya branding produk lokal Pontianak. Karena itulah, menurut Mayland, JNE sangat peduli dengan usaha untuk memajukan UMKM lokal salah satunya di bidang kuliner. Kini sudah ada hampir 6000 produsen makanan baik basah dan kering yang sudah berkerja sama dengan JNE. 

Meski beberapa usaha e-commerce sekarang telah memiliki jasa pengiriman sendiri, JNE mengaku belum tertarik untuk terjun langsung di dunia e-commerce. Menurut Mayland, ada banyak ruang pasar di jasa pengiriman yang masih bisa digarap oleh JNE. Misalnya soal packaging yang sering kali jadi kendala bagi UMKM. Saat ini, JNE sedang mencoba membangun Packaging Centre di Jakarta. Dengan adanya Packaging Centre kedepannya pedagang cukup membawa produk dagangannya saat hendak mengirimkannya. Mayland mengakui saat ini JNE sangat fokus mengembangkan Pckaging dan IT Centre ini agar bisa dinikmati oleh pelanggannya di seluruh Indonesia.
Mayland Hendar Prasetyo, Marketing Communication Division JNE
(sumber gambar : @dodon_jerry)https://twitter.com/dodon_jerry 
Persaingan di bidang jasa pengiriman dan logistik memang kian sengit, baik yang berskala lokal maupun nasional. Namun Mayland menegaskan bahwa JNE tidak gentar, ia yakin masing-masing memiliki pangsa pasarnya sendiri. Bukan berarti bahwa JNE hanya diam saja, beberapa program andalan JNE merupakan hasil dari usaha memahami konsumen terus menerus. JESIKA, layanan jemput ASI misalnya merupakan bentuk komitmen JNE terhadap kebutuhan para Ibu masa kini untuk tetap memberikan ASI pada anaknya.  

Berpengalaman hampir 26 tahun di dunia kurir-mengkurir, JNE berharap bisa semakin canggih dan semakin dekat dengan konsumen. Berawal dengan mobile apps yang kini membuat JNE sedekat dalam genggaman, kedepannya JNE akan terus mengintegrasikan tekhnologi dalam layanannya. Tujuan tentu saja, agar layanan JNE semakin mudah diakses, semakin cepat dan semakin dekat dengan para konsumennya.

Jadi, segeralah unduh My JNE di Google Playstore lalu kirim sesuatu ke pemilik blog ini hehehe...

Jumat, 18 Maret 2016

MERAYAKAN KREATIVITAS DI PONTIANAK PROLOC MARKET

Pontianak mungkin hanya sebuah kota kecil di pesisir barat Kalimantan. Tidak setiap hari kita menemukan beritanya di televisi-televisi nasional atau perbincangan para pejabat elit. Membandingkannya dengan kota seperti Jakarta, Bandung, Yogya atau Surabaya, jelas tidak apple to apple.

Bicara soal kreativitas, perkembangan industri kreatif di kota-kota besar tersebut tampak kian signifikan. Terbukti pemerintah sampai harus membentuk kementrian pariwisata dan ekonomi kreatif yang salah satu tugasnya adalah mengembangkan industri kreatif di negeri ini. Pontianak? Tak semapan industri kreatif di kota-kota besar memang, tapi geliat pertumbuhannya kian tampak.

Welcome to Pontianak Proloc Market
(sumber gambar : dok pribadi)
Ini mungkin hanya opini, namun sepengamatan saya sih, industri kreatif pontianak memang masih tampak jadi pengekor kota-kota besar. Apa yang sedang jadi trend di kota-kota besar coba dibawa ke Pontianak. Beberapa sukses, tidak sedikit juga yang menyerah kalah dan hilang lenyap ditelan persaingan. Burukkah? Tidak juga. Namanya juga industri yang baru berkembang, Pontianak sedang berproses. Buktinya semakin ke sini, unsur-unsur lokalitas semakin “terpampang nyata.” *Syahrini mode ON*

Bukti kekinian salah satunya bisa dilihat saat mengunjungi event bertajuk Pontianak Proloc Market yang dihelat pada 16-20 Maret 2016. Bertempat di halaman parkir Pontianak Convention Centre dan berbarengan dengan penyelenggaraan Borneo Ekspo 2016 (yang menempati gedung utama PCC), event ini adalah tempat berkumpulnya para produsen produk kreatif lokal lintas bidang. Meski penyelenggaraannya masih terkesan sederhana, namun antusiasme  yang ditunjukkan baik dari para pemilik usaha, pengisi acara maupun masyarakat kota Pontianak sangat luar biasa.

Dari kuliner, pomade, hingga robot...
(sumber gambar: dok pribadi)
Geliat kreativitas itu tampak dari stand-stand yang mewakili berbagai merek lokal. Saya juga melihat beberapa stand milik beberapa start-up lokal yang bergerak dibidang IT, sebuah penanda bahwa Pontianak siap mengejar Bandung atau Jakarta yang telah mencanangkan diri sebagai smart city. Ada pula stand yang menjual berbagai handycraft  seperti ukiran kayu, ukiran perak, hingga berbagai distro yang tampil dengan ciri khasnya masing-masing.

Yang tidak kalah menariknya adalah gelaran ini memberikan tempat pula bagi para pekerja kreatif. Bahkan beberapa penulis asal Pontianak menjadikan Pontianak Proloc Market ini sebagai momen peluncuran buku mereka. Ternyata geliat kepenulisan di Pontianak begitu masif. Mereka bahkan mencanangkan akan memecahkan rekor menerbitkan 1000 buku pada tahun 2016 ini.

Tidak hanya dunia kepenulisan, pekerja kreatif lainnya juga mendapat tempat. Sederet foto yang menyambut pengunjung dipintu masuk adalah hasil jepretan tangan-tangan profesional asal Pontianak. Dunia perfilman terwakili dengan pemutaran film “Mira,” sebuah film feature buatan sineas muda lokal. Film ini kabarnya sempat diputar secara terbatas di beberapa kota besar di Indonesia. Suguhan dari penampil lokalpun sudah pasti jadi pelengkap acara. Sayang saya tidak mengetahui kapan Cofternoon, band lokal favorit saya naik panggung.

Masuk-masuk dihadang hasil jepretan keren fotografer Pontianak
(sumber gambar: dok pribadi)
Nah bicara tentang pekerja kreatif, Pontianak Proloc Market juga tampaknya jadi ajang memperkenalkan profesi-profesi kreatif baru di masyarakat. Teman saya seorang food review dan pemilik blog tukangjalanjajan.com, menjadi salah satu pembicara dalam acara tersebut. Seperti yang kita tahu, perkembangan zaman membuat munculnya jenis-jenis profesi baru di masyarakat. Siapa duga sekarang orang bisa mencari duit hanya dengan nge-blog atau bermain media sosial. Dan asal tahu saja, sudah banyak anak Pontianak yang berhasil melakukannya.

Event ini mungkin hanya gambaran kecil tentang pertumbuhan industri kreatif anak-anak Pontianak yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Memang masih banyak potensi kreativitas ataupun brand-brand lokal yang belum terakomodir oleh penyelenggaraannya. Namun setidaknya, Pontianak Proloc Market ini sebuah langkah maju untuk terus mendorong keberanian berkreasi anak-anak lokal Pontianak. Suntikan semangat dan kode keras pula bahwa para kreator Pontianak siap bersaing di kancah nasional bahkan tidak menutup kemungkinan hingga Internasional.

Pengunjungnya rame, tanda antusias masyarakat tinggi...
(sumber gambar : dok pribadi)
Setahu saya sih beberapa tahun belakangan tak banyak ajang yang memang secara terang-terang melabeli diri sebagai tempat berkumpulnya produsen produk kreatif lokal sebagai mana event ini. Jika sukses, tentu ini adalah awalan untuk membuatnya event serupa yang jauh lebih besar tahun depan, lebih megah dan tentu saja lebih penuh kreativitas.


Mungkin seperti halnya hari raya Idul Fitri untuk Muslim, Natal untuk Nasrani, atau Imlek untuk etnis Tiong Hoa, Pontianak Proloc Market bisa jadi adalah hari raya buat para kreator-kreator lokal pontianak. Tempat untuk saling bersilaturahmi dan juga kesempatan untuk memperkenalkan produknya kepada khalayak yang lebih luas. Sebuah cara bagi anak-anak muda Pontianak untuk merayakan kreativitas mereka.
Selamat merayakan kreativitas...
(sumber gambar : dok pribadi)

Jumat, 09 Oktober 2015

GO JEK, BELAJAR DARI MASALAH

Blessing in disguise, ini adalah prinsip yang harus diyakini oleh semua entrepreneur. Dimana ada masalah ataupun bencana, maka disana juga akan ada peluang yang seandainya dilihat dengan jeli tentu bisa dikembangkan menjadi bisnis yang tidak saja menguntungkan, namun juga membantu banyak orang.

Nah, semakin kompleksnya kehidupan manusia jelas menghadirkan masalah-masalah entah yang dirasakan langsung ataupun tidak. Terlebih dalam realitas masyarakat saat ini yang ukuran-ukuran nilainya terus berubah. Beberapa era dulu uang mungkin jadi sesuatu yang paling berharga. Tapi kini, waktu bisa jadi currency yang jauh lebih berharga dari lembaran-lembaran uang bagi beberapa orang.

Kejelian seorang entrepreneur menangkap peluang-peluang dari masalah inilah yang tidak jarang menjelma menjadi bisnis raksasa yang beromset luar biasa. PayPal misalnya. Berawal dari semakin maraknya transaksi online yang membutuhkan metode pembayaran yang aman, cepat dan mudah, PayPal kemudian hadir menjadi solusi yang hingga kini tercatat sebagai salah satu metode pembayaran paling sering digunakan di jagad daring.

Nah, beberapa waktu yang lalu, sebuah startup asli Indonesia sedang ramai diperbincangkan di banyak media. Go Jek, besutan Nadiem Makarim dianggap sebagai sebuah terobosan baru yang memberi banyak dampak pada sistem transportasi di beberapa kota-kota besar. Kebetulan akhir pekan yang lalu, saya datang  berkunjung ke Ibukota dan tentu saja kesempatan ini juga saya gunakan untuk merasakan sendiri bagaimana pelayanan Go Jek tersebut.

Nadiem Makarim (baju hitam) dan armada Go Jek-nya...
(sumber gambar: metro.sindonews.com)
Untuk kota sebesar Jakarta, masalah kemacetan mungkin menjadi salah satu persoalan yang tidak kunjung selesai. Dengan jumlah penduduk yang sedemikian banyak, berbanding lurus dengan jumlah kendaraan pribadi yang berseliweran di jalan raya, tak ayal membuat kota ini dikepung dengan kemacetan di sana-sini. Belum lagi menghitung masyarakat di kota-kota satelit Jakarta yang mencari peruntungan di ibukota, menambah sesaknya jalan-jalan disana.

Ada banyak pilihan moda transportasi umum di Jakarta baik yang masal maupun privat. Tapi semua tentu punya kurang dan lebihnya masing-masing. Dan ojek yang lebih gesit dan ramping, mungkin masih menjadi salah satu primadona pilihan, terutama ketika sedang berada di puncak-puncaknya kemacetan.

Namun begitu, ada banyak hal juga yang membuat orang enggan menggunakan ojek. Salah satunya adalah standar harga yang tidak jelas. Semua hanya berdasarkan kesepakatan antara si penumpang dan si pengojek. Untuk mereka yang sudah terbiasa menggunakan jasa ojek mungkin sudah mengetahui harga yang sesuai untuk jarak yang hendak dituju. Namun untuk mereka yang tidak terbiasa menggunakan ojek, ini bisa jadi masalah yang tidak menyenangkan. Selain itu, ojek juga idientik dengan kebiasaan ugal-ugalan di jalan raya. Tidak jarang pengemudi ojek melanggar aturan lalu lintas dengan alasan mencari jalan pintas.

Kedua hal ini pernah saya alami sendiri. Untuk sebuah jarak yang terbilang cukup dekat, saya pernah dikenai tarif yang terbilang cukup tinggi. Waktu itu saya baru pertama kalinya datang ke Jakarta, jadi tidak tahu benar jarak menuju tempat yang dituju dan berapa biaya standar untuk ke sana. Celakanya, yang membuat saya cukup trauma adalah si pengemudi ojek kemudian mengantar saya ke tempat tujuan dengan melawan arus. Semenjak itu, saya selalu ragu untuk menggunakan jasa ojek.

Go Jek kemudian hadir menjadi semacam menjawab untuk masalah yang saya alami tersebut. Bagi yang pernah menggunakan aplikasi Go Jek pasti merasakan sendiri, bagaimana tarif ojek yang harus dibayarkan akan muncul sebelum kita memesan jasa Go Jek hanya dengan memasukkan titik keberangkatan dan tujuan di GPS yang ada di dalam aplikasi tersebut. Dengan demikian permasalahan soal harga ini menjadi terselesaikan.

Selain itu, dari informasi yang saya baca, para pengemudi Go Jek sudah diberikan pelatihan khusus dari manajemen Go Jek. Salah satunya tentu mengenai safety riding. Karena itulah, Go Jek memberikan standar bagaimana setiap penumpang akan mendapatkan pinjaman helm dan masker tiap kali berkendara bersamanya. Selain itu mereka juga dilatih untuk mengikuti aturan lalu lintas dengan benar. Dan ini saya rasakan sendiri ketika kemarin berkali-kali menggunakan jasa Go Jek. Tak sekalipun ada pelanggaran lalu lintas yang dilakukan oleh para pengemudinya. Tentu ini tidak bisa jadi generalisasi keseluruhan, tapi paling tidak ini salah satu contoh yang saya alami sendiri.

Selain itu, perkara keamanan juga jadi hal yang sering menjadi perhatian para pengguna ojek. Dengan angka kriminalitas kota Jakarta yang tinggi, keamanan para pengguna ojek sering kali dipertanyakan. Nah Go Jek menjawab ini dengan meyakinkan bahwa semua driver Go Jek telah di data dengan baik sehingga jelas orang per orang. Salah satunya adalah kita bisa tahu siapa pengemudi Go Jek yang akan menjemput kita lengkap dengan nama, foto bahkan nomer telepon. Selain itu, pihak manajemen Go Jek juga merilis bahwa pengemudi dan penggunakan jasa Go Jek telah diasuransikan.

Keberhasilan melihat peluang dan memberikan jawaban untuk masalah-masalah seputar ojek inilah yang membuat Nadiem Makarim sukses mengembangkan Go Jek yang kini tidak hanya ada di Jakarta namun juga di kota-kota besar lainnya. Nadiem sendiri percaya, kehadiran Go Jek ini akan membantu para tukang-tukang ojek. Konon menurutnya, selama ini 70% waktu yang dipakai para supir ojek hanya untuk menunggu penumpang alias ngetem di pangkalan. Betapa tidak efisiennya, bukan? Karena itulah, dengan aplikasi Go Jek ini, para supir Go Jek, tidak perlu menunggu, namun cukup dengan mengikuti aplikasi Go Jek yang mereka bawa. Hal ini tentu memudahkan si driver serta juga memudahkan pula buat si pelanggan.

Terakhir, Go Jek tidak saja hadir sebagai jawaban atas masalah-masalah perojekan. Nadiem melihat ini sebagai peluang, hingga jadilah Go Jek yang seperti kita kenal sekarang. Ia memberikan jawaban nyata sekaligus solusi atas masalah-masalah yang ia temukan. Selain itu visi besar Nadiem yang ingin menolong meningkatkan pendapatan para tukang ojek jelas adalah wujud nyata bahwa syarat untuk sebuah bisnis untuk tumbuh dan longlasting adalah dengan memiliki visi besar yang menyertainya.

Kedepannya, banyak tantangan untuk Go Jek yang siang menghadang laju pertumbuhannya. Mulai dari para tukang ojek pangkalan yang mulai terusik, hingga pesaing besar serupa seperti GrabBike yang sebelumnya sukses dengan GrabTaxi-nya (percaya nggak percaya, saya merasakan sendiri bagaiman persaingan diantara para pengemudi Go Jek dan Grab Bike ini). Tentu jika Nadiem dan kawan-kawan tetap jeli menangkap apa-apa saja keluhan dan masalah di masyarakat kemudian memikirkan inovasi untuk menghadirkan solusinya, saya yakin Go Jek akan tetap menjadi yang terdepan.

Grab Bike, siap menggeser dominasi Go Jek...
(sumber gambar: infokomputer.com)

Rabu, 30 September 2015

BAGAIMANA PERUSAHAAN MENDAPATKAN PRODUK YANG AKAN DIJUAL?

Dalam kegiatan usaha, apapun itu bentuknya, produk menjadi salah satu elemen yang sangat penting. Sebelum seorang entrepreneur merencanakan hal-hal lain entah itu membuat merketing plan maupun perencanaan keuangan, menentukan produk yang akan diproduksi ataupun ditawarkan dalam kegiatan usaha.

Penyebutan produk dalam usaha tidak mengacu pada produk berwujud fisik saja. Produk yang dimaksud juga mencakup produk non fisik maupun jasa. Karena itulah boleh dibilang semua kegiatan usaha pasti menghasilkan produk. Sebuah perusahaan keuangan produknya bisa berupa asuransi, tabungan, obligasi, dll. Begitupun produk yang ditawarkan perusahaan konsultan. Produk mereka tawarkan tak berbentuk, melainkan berupa jasa konsultan.

Lalu darimanakah perusahaan mendapatkan produk yang akan dijual?

Ada beberapa macam metode yang digunakan oleh para Entrepreneur untuk mendapatkan produk yang hendak dijual. Masing metode-metode tersebut tentu memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing dan juga membutuhkan treatment yang berbeda-beda antara satu dan yang lainnya.

Trading

Trading secara harfiah berarti berdagang. Artinya si penjual membeli barang kemudian menjual kembali barang tersebut. Jadi keuntungan dari trading berasal dari selisih harga jual terhadap harga beli. Mudahnya kegiatan trading ini kita jumpai dalam berbagai usaha ritel.

Prinsip trading, beli murah jual mahal...
(sumber gambar: tausiahmuslim.blogspot.com)
Karena sumber keuntungan dari kegiatan trading ini bersumber dari selisih harga jual dan harga beli, efektifitas dan efisiensi menjadi kunci kegiatan usaha ini. Misalnya dengan melakukan pembelian dalam jumlah besar sehingga mendapat potongan harga lebih, ataupun menambah efisiensi dalam proses distribusi. Bahkan bisa pula dengan menambahkan jasa-jasa tambahan seperti delivery service berbayar.

Trading sendiri masih diperdebatkan apakah termasuk kedalam kegiatan entrepreneurship karena boleh dibilang tidak ada proses produksi dalam kegiatan usahanya. Namun mengingat bahwa kegiatan trading juga menuntut strategi baik pemasaran maupun manajemen yang sama mumpuninya, banyak juga yang berpendapat bahwa trading adalah bagian dari entrepreneurship.

Trading juga umum sekali kita temui dalam kegiatan usaha yang menawarkan produk keuangan berupa valas maupun saham. Sebabnya karena proses kegiatan yang dilakukan hanyalah membeli kemudian menjual kembali meskipun hal itu membutuhkan kemampuan yang tidak mudah pula.

Mark Lone

Mark lone adalah kegiatan membuat produk yang menggunakan pabrikan lain, sementara itu merek adalah milik pemesan produk tersebut. Mark lone hampir sama dengan istilah private laber yang banyak dilakukan para pemilik ritel modern yang menjual suatu produk dengan merek mereka namun sebenarnya pemilik ritel tersebut tidak memiliki pabrik sendiri untuk produk tersebut.

Sebenarnya metode seperti ini sudah umum dipakai oleh banyak pemilik merek. Sebut saja misalnya produk-produk elektronik dan gadget. Biasanya pemilik merek-merek tidak memproduksi sendiri barang tersebut, melainkan diproduksi oleh pabrik yang berdiri sendiri. Si pemilik merek hanya memesan produk dengan spesifikasi dan kualitas yang telah ditentukan kemudian melabeli dengan label produk tersebut. 

Hal ini biasa dilakukan guna mengefektifkan kegiatan produksi. Sehingga entrepreneur bisa fokus pada membangun merek, menyusun diferensiasi serta rencan pemasaran produk. Selain itu, cara ini sering kali digunakan untuk mengurangi kerugian dan resiko yang disebabkan kesalahan perencanaan produksi.

Produk orang lain, namun menggunakan label sendiri
(sumber gambar: mysacredfig.com)
Kelemahan metode ini adalah sulitnya inovasi dan diferensiasi produksi sehingga mudah ditiru. Hal ini disebabkan karena produk yang dihasilkan sama dengan produk yang dipasarkan produsen pembuatnya. Karena itulah biasanya, ketika produk sudah dapat dipasarkan dengan baik dan memiliki pasarnya sendiri, entrepreneur akan memulai membangun pabriknya sendiri untuk memproduksi produk yang tadinya di mark lone-kan maupun memproduksi produk inovatif lainnya.

Impor

Impor sebenarnya serupa dengan trading, hanya saja sumbernya berasal dari luar negeri. Cara ini adalah salah satu cara yang juga banyak yang melakukan. Namun mendatangkan produk dari luar negeripun ternyata tidak mudah. Dibutuhkan jejaring produsen di luar negeri yang baik untuk bisa melakukannya.

Impor bisa dalam wujud barang baku yang akan dilakukan proses produksi kembali ataupun produk jadi. Walaupun begitu, yang lebih sering digunakan adalah impor produk setengah jadi, sehingga produsen hanya tinggal melakukan pengemasan terhadap produk yang diperoleh dari luar negeri.

Mengapa impor? Tentu saja pilihan impor tidak membutuhkan investasi yang besar ketimbang dengan memproduksi sendiri. Selain itu resiko-resiko yang harus dihadapi dalam proses produksi juga bisa dihindari. Selain itu, impor juga sering kali memberi pilihan produk yang unik dan tidak bisa dijumpai di dalam negeri. 

Produk Sendiri

Melakukan proses produksi sendiri mungkin adalah pilihan yang memiliki tantangan yang paling besar. Dibutuhkan investasi yang lebih besar, serta dihadapkan pula dengan resiko kegagalan yang cukup besar di tiap tahapannya.

Namun tentu ada pula kelebihannya. Seandainya produk yang di tawarkan berhasil diserap oleh pasar dengan baik, entrepreneur bisa lebih fleksibel dalam menentukan keuntungan karena semua ditangani sendiri. Selain itu, dengan cara lain beban biaya atas produk bisa jadi lebih besar. Namun dengan memproduksi sendiri, harga jualpun bisa ditekan menjadi lebih murah.

Semakin besar skala produksi maka semakin besar pula sumber daya yang dibutuhkan. Proses produksi sendiripun menuntut ketersediaan bahan baku yang berkesinambungan. Beberapa produk juga diwajibkan memiliki berbagai macam izin yang ketat. 

Membangun pabrik membutuhkan modal dan sumber daya yang tidak sedikit
(sumber gambar: internasional.republika.com)
Karena itulah, alternatif pilihan dengan memproduksi sendiri produknya harus berdasarkan riset yang matang. Yang menjadi acuannya haruslah kebutuhan pasar. Jangan sampai kita membuat produk yang tidak ada pasarnya, ataupun produk sejenis itu namun telah kelewat dari momentum produk.

Menentukan produk adalah pilihan yang sangat menentukan. Produk yang tepat dengan pemasaran yang benar serta momentum yang menguntungkan, akan menjadi elemen penentu keberhasilan sebuah produk. Karena itulah, sebaiknya rencanakan produk yang akan dipasarkan sedemikian rupa agar perencanaan pemasaran benar-benar siap dan tepat untuk diaplikasikan.

Kamis, 17 September 2015

MENCARI MODAL SELAIN DARI PINJAMAN BANK


Modal selalu menjadi momok bagi banyak pengusaha baru. Mereka menganggap bahwa modal adalah segalanya sehingga menjadikan kekurangan modal sebagai alasan untuk tidak memulai usaha. 

Padahal hal ini tidak sepenuhnya benar. Modal tetap instrumen penting yang juga menentukan keberhasilan, namun bukanlah segala-galanya. Banyak usaha yang dimulai dengan modal besar justru gagal, sementara tidak sedikit usaha dengan modal minim justru berhasil meraup kesuksesan. Modal tetap penting, namun ide dan ketekunan jauh lebih penting. Apalagi banyak juga usaha yang bisa dimulai dengan modal yang nyaris nol (baca: Memulai usaha dengan modal minim) namun dengan ketekunan telah terbukti banyak yang berhasil meraih hasil tidak sedikit.

Selain menggunakan modal sendiri, menggunakan modal pinjaman adalah pilihan yang sering kali digunakan para pengusaha untuk memulai ataupun mengembangkan usahanya. Modal pinjaman ini umumnya berasal dari orang lain yang bisa siapa saja. Entah orang tua, saudara, pacar, tetangga, kenalan bahkan hanya teman biasa namun punya visi yang sama dalam bisnis. Selain itu lumrah juga kita mendapatkan pinjaman dari bank atau lembaga keuangan lainnya meski resikonya kita harus berhadapan dengan bunga yang kadang tidak kecil.

Ada banyak orang kaya di dunia ini yang tak tau mau investasi kemana lagi...
(sumber gambar: arryrahmawan.net)
Nah, selain cara-cara tersebut, ternyata ada cara-cara lain yang bisa kita gunakan untuk mendapatkan modal guna membangun atau mengembangkan usaha kita. Percayalah selama ide dan prospek benar-benar menjanjikan sebuah usaha pasti akan kesulitan mendapat dukungan modal.

Di dalam dunia start-up ada yang dikenal dengan perusahaan investor atau funding. Perusahaan ini menawarkan produk keuangan yang bermacam-macam jenisnya. Umumnya perusahaan ini fokus pada salah satu atau beberapa bidang bisnis saja. Untuk saat ini perusahaan funding ini cukup populer di kalangan pengusaha bidang IT.

Memperoleh dukungan investasi dari perusahaan ini jauh lebih sulit dari bank. Umumnya perusahaan funding ini memiliki tim dan manajemen yang baik, sehingga analisa dan perhitungan mereka ketika hendak berinvestasi ataupun mendanai sebuah proyek sangat cermat. Hanya usaha yang memiliki masa depan cerah yang akan mendapat bantuan pendanaan.

Namun jangan terburu-buru dulu menyiapkan proposal untuk memperoleh pendanaan. Sebelumnya kita harus mengetahui jenis-jenis perusahaan funding dan investasi ini karena selain memiliki SOP yang berbeda-beda terkait pendanaan, masing-masing jenis perusahaan ini akan mendatangkan konsekuensi yang berbeda-beda pula.

Private equity

Perusahaan private equity berfokus pada investasi untuk mengambil kepemilikan saham atau aset. Masing-masing memiliki tujuan dan strategi investasi masing-masing, namun bentuk pendanaannya adalah dengan memberikan bantuan modal kerja dengan tujuan peningkatan perusahaan.

Kebanyakan private equity menggunakan strategi laverage buyout yaitu mengakuisisi sebuah usaha guna mengambil kontrol mayoritas terhadap usaha kemudian mengembangkan usaha tersebut. Strategi lain yang juga sering digunakan adalah private capital, yaitu perusahaan memberikan investasi modal dan mendukung kerja sama jangka panjang. Tujuannya adalah ketika perusahaan yang diinvestasikan akan Go Publik, mereka akan mendapat pembagian saham yang maksimal.

Hedge fund

Hedge fund adalah perusahaan pendanaan yang mengumpulkan dana dari para investor potensial kemudian berinvestasi pada surat berharga, instrumen keuangan, dan proyek dengan keuntungan yang tinggi. Umumnya mereka berinvestasi pada aset atau produk investasi yang relatif cair.

Tidak sembarangan perusahaan investasi menjadi perusahaan hedge fund. Hanya perusahaan yang sudah terakreditasi dan manajemen yang profesional yang bisa menjadi perusahaan hedge fund. Namun demikian keberadaan perusahaan hedge fund bisa menjadi alternatif sumber pendanaan usaha kita.

Venture capital

Sebenarnya perusahaan venture capital memiliki kesamaan dengan private equity, yaitu bertujuan untuk mengambil kontrol saham dalam sebuah perusahaan. Namun pendekatan yang digunakan adalah memberikan modal pada tahap awal usaha (early stage) pada perusahaan berpotensi tinggi, bervisi global atau memiliki tekhnologi baru. Hingga kemudian perusahaan akan siap menjadi perusahaan mandiri ketika dibuka saham untuk public. Cukup banyak start-up yang berhasil menggunakan pendanaan ini seperti Facebook dan Alibaba yang berhasil meraih IPO yang cukup signifikan dari awalnya hanya sebuah perusahaan sederhana.

Trend saat ini, perusahaan-perusahaan pendanaan dan investasi ini bergerak di dunia teknologi. Namun bukan berarti mereka tidak mendanai usaha lain seperti agrikultur, properti, energi bahkan wisata. Perusahaan-perusahaan ini selalu terbuka untuk semua ide, asalkan ide tersebu memang memiliki masa depan yang cerah. Selain itu prosedurnya pun tidak mudah.Akan ada proses yang panjang dan lama sehingga sebuah usaha akan mendapat kepercayaan pendanaan dari perusahaan pemodal ini.

Jelas, modal adalah hal kesekian, ide dan ketekunan adalah kuncinya...
(sumber gambar: parkbuzz.com)

Pada intinya, semua perusahaan keuangann akan selalu melihat pada master plan bisnis yang ditawarkan, jangkauan market, return of investment, risk and gain, efek secara global, kemampuan dan pengalaman perusahaan dalam mengelola dana investasi, serta team yang akan menjalankan bisnis. Karena itulah, seberapa besar dari ide brilian yang kita hasilkan adalah penentu terbesar sukses tidaknya untuk meraih pendanaan dari perusahaan-perusahaan investasi tersebut. Sisanya bergantung pada seberapa tekun dan yakin kita pada keberhasilan. Selamat mencoba!

Senin, 14 September 2015

PROSES KEPUTUSAN PEMBELIAN PELANGGAN

Dunia marketing adalah dunia yang menarik. Ia tidak habisnya dipelajari dan dikaji, karena dunia satu ini sangat dinamis. Bahkan seperti dikatakan oleh pakar marketing dunia, Philip Kotler, “Cuma perlu satu hari untuk mempelajari marketing, namun untuk menguasainya perlu waktu seumur hidup.”

Secara sederhana, banyak yang mengira bahwa proses marketing adalah proses yang sederhana. Orang awam cenderung menganggap proses marketing sebagai proses menjual produk sebanyak-banyaknya. Namun nyatanya, kegiatan marketing adalah sebuah proses komprehensif yang mencakup berbagai cabang ilmu yang berhubungan secara langsung dan tak langsung.

Salah satu poin bahasan dalam dunia marketing yang perlu dipahami oleh semua marketer adalah tentang bagaimana memahami Costumer Path. Apa itu Costumer Path? Costumer Path secara sederhana dapat dijabarkan sebagai sebuah proses perjalanan pembuatan keputusan pembelian seorang pelanggan.

Menurut Hermawan Kartajaya dalam bukunya WOW Marketing, perubahan era yang kini begitu lekat dengan perkembangan Tekhnologi Komunikasi dan Informasi (TIK) telah mengubah proses Costumer Path ini. Pada era-era sebelumnya Costumer Path dikenal dengan rumusan 4A yakni, Aware, Atitude, Act dan Act Again. Tapi sekarang kita bisa membagi Costumer Path ini menjadi 5 tahapan yang bisa kita singkat sebagai 5A, yaitu Aware, Appeal, Ask, Act, dan Advocate.
Hermawan Kartajaya, pencetus WOW marketing...
(sumber gambar: millicent.blogdetik.com)

Aware

Ini adalah tahap awal interaksi antara pelanggan dengan produk. Pada tahap ini pelanggan masih cenderung pasif. Pada tahap ini, tugas seorang marketer adalah membuat pelanggan sadar akan keberadaan suatu merk ataupun produk.

Ada tiga sumber pengenalan pelanggan terhadap produk. Yang pertama adalah, komunikasi pemasaran seperti iklan. Yang kedua adalah informasi dari orang lain ataupun komunitas. Dan yang ketiga pengalaman pribadi.

Appeal

Setelah sadar akan keberadaan suatu merek, maka pelanggan harus didorong masuk pada tahap Appeal atau tertarik. Pada tahap ini, dalam benak pelanggan akan terbangun sebuah daftar yang berisi berbagai merek yang membuat mereka penasaran. Dan sebuah brand atau merek haruslah memiliki nilai-nilai lebih tertentu dibanding pesaingnya untuk menjadi yang teratas dalam daftar tersebut.

First Impresion menjadi sangatlah penting. Terkadang pelanggan cukup kejam akibat ketatnya persaingan di era kekinian. Mereka tidak memberikan banyak kesempatan pada merek untuk membuktikan dirinya. Hanya mereka yang bisa memberikan sesuatu yang lebih atau yang lain dari yang biasa sejak dari perkenalan pertama yang akan mampu membangkitkan daya tarik pelanggan. Kalau tidak merek hanya akan lewat sepintas saja dalam memori pelanggan kemudian, menghilang. 

Ask

Pada tahap ini pelanggan aktif bertanya tentang sebuah merek. Simpelnya, bertanya merupakan tanda proaktifnya konsumen dalam kegiatan pengambilan. Proses bertanya ini bisa saja berakhir pada dua kesimpulan positif dan negatif. 

Pada tahap inilah sebenarnya hubungan antara konsumen dan produk mulai terbangun. Tidak hanya dalam bentuk informasi namun juga psikologis. Karena itu pada tahap ask ini, marketing harusnya tidak hanya fokus pada produk namun hubungan dengan konsumen serta sisi human spirit konsumen wajib diperhatikan.

Act

Setelah proses Ask dilalui dan berujung pada kesimpulan positif, maka pelanggan akan melakukan pembelian.  Nah jika produk ataupun brand sanggup membangun Engagement atau keterikatan kuat antara pelanggan dan produk, maka pelanggan akan dengan senang hati untuk memberikan feedback dalam upaya mempertipis selisih antara harapan pelanggan terhadap realitas produk. Pada akhir tahapan ini pelanggan sudah memiliki bonding dengan brand sehingga si pelanggan merasa terlibat terhadap produk.
Marketing bukan lagi, bertujuan membuat pelanggan sekedar kembali...
(sumber gambar: netpreneur.co.id)
Advocate

Ketika engagement sudah berhasil dibangun, dan pelanggan mendapat pengalaman yang positif terhadap merek, maka pelanggan pada umumnya tidak segan-segan lagi untuk merekomendasikan merek tersebut kepada orang lain. 

Dengan maraknya media dan cepatnya konektivitas saat ini, hal ini akan sangat baik bagi merek karena akan menjadi proses marketing yang akan terus membesar jika dieksekusi dengan baik. Inilah tingkat loyalitas tertinggi pelanggan di era saat ini. Inilah tahapan dimana pelanggan telah menjadi Advocate bagi produk.

Nah perubahan zaman serta perubahan perilaku konsumen inilah yang harus menjadi perhatian dari para pelaku marketing. Harapan agar pelanggan sekedar membeli dan membeli lagi sudah bukan lagi menjadi tujuan proses marketing, melainkan agar para pelanggan mau dengan senang hati merekomendasikan produk atau merek kepada komunitasnya.

Karena itu buat para marketer atau para pengusaha yang baru memulai usaha, berfokus agar mampu menjaring pelanggan sebanyak-banyaknya tentu tidak ada salahnya. Namun membangun perangkat agar para pelanggan yang datang menjadi seorang pelanggan yang advocate juga tak kalah pentingnya.

Rabu, 09 September 2015

MEMBERI NAMA PADA USAHA ATAUPUN PRODUK

Seperti yang sudah sempat saya jabarkan pada post yang berbeda (dapat dibaca di sini) bahwa menentukan nama untuk sebuah usaha ataupun produk tidaklah mudah. Bahkan beberapa perusahaan besar sampai harus menyewa jasa konsultan yang memang berpangalaman di dunia branding untuk membuatkan nama untuk produk atau usaha mereka.

Ada banyak cara untuk memberikan nama. Pun nama untuk sebuah produk atau usaha bisa diambil dari mana saja. Hanya saja, karena nama adalah sebuah idientitas maka nama harus memenuhi syarat tertentu. Selain harus mudah diingat, nama harus memancing tingkat aware yang tinggi dari audience. Tidak hanya itu, nama juga harus mencerminkan image yang ingin dibentuk oleh usaha baik secara jangka pendek dan terutama jangka panjang.

Berdasarkan buku Kamus Branding karangan Mediola B. Wiryawan, ada berbagai macam model pemberian nama yang umumnya dipakai untuk penamaan produk atau usaha.

Berdasarkan nama founder/pemilik

Ini merupakan metode penamaan dengan nama brand atau merk diambil dari nama pendiri atau pemilik usaha. Contoh untuk metode ini dapat kita temui pada brand "Honda" yang diambil dari nama pendirinya Soichiro Honda, ataupun Johnny Andrean, jaringan salon yang sangat terkenal di seluruh Indonesia yang juga merupakan nama pendirinya sendiri.

Brand fashion adalah salah satu yang paling sering menggunakan nama pendirinya...
(sumber gambar: swap.com)
Menjelaskan produk

Penamaan ini memberikan deskripsi untuk produk utama yang ditawarkan. Sehingga, cukup dari namanya saja, kita bisa langsung tahu jenis produk apakah yang diwakili oleh brand tersebut. Contohnya adalah Kentucky Fried Chicken (KFC) yang secara harfiah jika diterjemahkan menjadi Ayam Goreng Kentucky. Begitupun Mie Gelas yang menjual produk mie yang bisa dimasak di dalam gelas. Atau Aqua yang secara makna berarti air.

Nama yang asosiatif

Metode ini adalah dengan cara menamai dengan hal-hal yang sebenarnya tidak mencerminkan langsung produk, namun memiliki keterikatan kuat dengan produk tersebut entah bahan pembuat, manfaat atau hal-hal lainnya. Contoh produk dengan nama jenis ini misalnya adalah Head & Shoulder yang merupakan produk shampo untuk rambut yang letaknya memang berada di kepala dan pundak. Contoh lainnya adalah Tolak Angin, yang merupakan jamu untuk mengusir masuk angin.

Menggunakan metafora ataupun kiasan

Ini adalah penamaan produk dengan nama benda, orang, binatang, proses, mitologi atau bahasa asing yang mewakili kualitas nilai dari perusahaan. Contoh produk seperti ini antara lain perusahaan pengembang tekhnologi Apple, atau rangkaian produk perawatan dan kecantikan Dove yang berarti burung merpati.


Windows berharap menjadi seperti jendela yang ada di setiap rumah
(sumber gambar: techview.me)

Nama tersendiri yang bebas

Pemberian nama jenis ini adalah dengan menamai produk dengan nama lain yang berdiri bebas tanpa hubungan langsung dengan produk. Namun jenis produk disertakan untuk menggambarkan jenis produk apa yang ditawarkan.  Contohnya adalah Semen Tiga Roda, yang sama sekali bukan produsen ban atau roda, melainkan semen. Begitupun Teh 2 Tang yang meski memakai nama tang namun adalah produk minuman teh. 

Abstrak

Ada pula perusahaan yang menggunakan nama yang sama sekali abstrak atau tidak menggambarkan produk atau jasa yang hendak ditawarkan. Nama tidak mencerminkan apapun dari produk yang ditawarkan. Atau bahkan ada yang menggunakan nama yang bukan dari sebuah kata yang memiliki arti. Contohnya brand Djarum yang merupakan produsen rokok kretek, ataupun KitKat yang merupakan brand coklat yang sangat populer.

Singkatan

Cara memberikan nama produk dengan sebuah singkatan juga menjadi salah satu metode pemberian nama yang sering dipakai. Sebagai contoh adalah brand LG, salah satu brand elektronik yang sudah mendunia. Contoh lainnya adalah MnM, produk permen yang sudah sangat populer.

Kombinasi

Yaitu cara penamaan dengan menggabungkan dua ataupun lebih cara-cara yang telah dijabarkan sebelumnya. Brand-brand yang diberi nama dengan cara ini contohnya adalah McD, Telkomsel, dan FedEx.


McD adalah nama yang merupakan kombinasi beberapa metode...
(sumber gambar: mcdonalds.com.au)
Itulah beberapa cara yang biasa digunakan untuk memberikan nama pada sebuah produk ataupun perusahaan. Karenanya jelas, bagi sebuah produk brand adalah sesuatu yang sangat penting. Ia adalah layaknya reputasi bagi seorang manusia. Memang nama tidak selalu mencerminkan reputasi seseorang. Tapi nama yang baik tentu akan jadi pintu awal untuk membangun sebuah reputasi yang baik.

Kalau tidak percaya, coba saja tanya kepada para artis yang populer bukan dengan nama asli mereka. Terkadang nama memang tidak berarti apa-apa. Tapi tidak jarang juga, nama bisa jadi segalanya. Tidak selalu, namun paling tidak nama itu penting. Percayalah!

Minggu, 06 September 2015

BELAJAR BRANDING PADA TUHAN DAN SAITON

Beberapa waktu yang lalu, kita sempat dihebohkan oleh pemberitaan tentang seorang pria di Banyuwangi yang memiliki nama Tuhan. Hebatnya lagi, tidak lama kemudian mucul pula seorang pria asal Palembang yang mengaku bernama Saiton. Penemuan dua nama unik di masyarakat ini kemudian menjadi viral dan pembahasan di berbagai media.


Sebenarnya cuma berita tentang dua orang yang ingin ketemuan....
(sumber gambar: pixpix.co)
Soal nama sendiri sebenarnya orang Indonesia cukup berani dalam memberikan nama anaknya. Saya pernah tahu ada orang yang bernama Anti Dandruf, Royal Jelly dan Selamat Dunia akhirat. Bahkan teman saya pernah bercerita bahwa ia memiliki teman di Sumatra Utara yang bernama Marylin Monroe namun bermarga Batak. Hebat bukan?

Apalah arti sebuah nama? Begitu sastrawan asal Inggris, William Shakespeare bersajak. Ia tidak sepenuhnya benar. Nama tentu penting bagi setiap orang. Ia adalah idientitas. Brand yang menjadi penanda terhadap suatu produk, yaitu diri kita. Begitupun dari perspektif agama. Nama adalah doa katanya.

Dari sisi bisnis, pemilihan nama untuk usaha erat sekali hubungannya dengan proses branding. Beberapa pengusaha masih tidak terlalu menganggapnya penting. Namun banyak pula yang merasakan bahwa pemilihan nama yang tepat ataupun tidak tepat akan sangat mempengaruhi jalannya bisnis yang akan kita arungi.

Nama Adalah Idientitas

“Jika kamu ingin memuaskan pembeli, maka buatlah produk sebaik-baiknya. Tapi jika kamu ingin pembelimu datang kembali, buatlah branding!”

Itu adalah sebuah kalimat petuah yang pernah saya baca entah dimana. Brand, salah satunya nama usaha adalah sebuah idientitas. Ia adalah penanda yang membuat orang jadi akan mengenali kita dan membedakan kita dengan orang lain.

Karena itulah di dalam dunia usaha, nama harus dibuat menarik, unik, serta yang paling penting adalah mencerminkan branding yang sedang ingin kita bentuk. Branding adalah gambaran bentuk citra yang kita inginkan ditangkap oleh konsumen kita.

Contoh sederhana adalah ketika perubahan Lativi menjadi Tv-One. Transformasi kepemilikan serta perubahan konten acara yang sangat drastis, membuat televisi tersebut membutuhkan image baru. Ketimbang mengganti image dengan cara tetap memakai nama Lativi, pemilik baru televisi tersebut memilih untuk mengganti seluruh branding yang sudah dibentuk sebelumnya termasuk juga namanya. Maka Lativi yang awalnya lebih idientik dengan acara hiburan kemudian berubah mejadi TV-One yang lebih dominan dengan berita. Dan keputusan ini terbilang tepat sehingga TV-One kini menjadi salah satu televisi yang mampu bersaing dengan televisi lain yang sudah lebih mapan.


Metamorfosis TV-One, dari TV hiburan menjadi TV berita...
(sumber gambar: pengetahuanblogging.blogspot.com)

Menarik dan Mudah di Ingat

Salah satu tujuan branding adalah untuk membentuk kesan jangka panjang terhadap produk. Tentu syarat utamanya adalah dengan yakin bahwa produk yang kita tawarkan memang benar-benar memiliki kualitas yang baik. Sebab jika sebaliknya, bisa-bisa justru citra buruklah yang melekat. Tentu kita tidak mau bukan?

Nama usaha haruslah dibuat unik. Tujuannya agar bisa menarik perhatian dan membuat orang lebih mudah mengingatnya. Pemberian nama “Tuhan” dan “Saiton” memenuhi kriteria unik ini. Orang akan terbangkitkan Curiosity-nya juga akan dengan mudah mengingatnya. Dan ketika produk itu bisa memenuhi kepuasan yang diharapkan, maka pembeli akan bersedia kembali lagi untuk mengulang membeli. Karena itu, nama haruslah dibuat singkat dan sederhana agar gampang diingat oleh pembeli.

Tapi di lain sisi, kita patut berhati-hati juga. Pemilihan nama yang “nyeleneh” bisa pula malah menjadi bumerang. Karena itu sangatlah perlu untuk mengenali pasar dengan baik. Hal ini juga untuk mempertajam penetrasi usaha kepada segmen pasar yang memang dituju. 

Contoh untuk sebuah restoran dengan segemen pasar menengah ke atas, pemilihan nama-nama berbahasa asing tentulah tidak masalah. Namun sebaliknya bagi restoran yang menyasar segmen menengah ke bawah, pemilihan nama semacam ini tentu tidak cocok.

Pemilihan nama yang unik tidak melulu harus bombastis. Pemilihan nama untuk membangun kesan tertentu adalah salah satu cara yang digunakan dalam dunia branding. Seperti produsen pembalut yang memakai nama "Softies" untuk membangun citra lembut, "Bakso Setan" untuk membangun kesan pedas yang sangat, "Nano-nano" untuk mencerminkan rasanya yang unik, seolah bercampur-campur tidak karuan.  

Nama Mencerminkan Bisnis

Pemilihan nama juga seringkali dalam rangka untuk mencerminkan bisnis yang sedang digeluti. Seperti pada pemakaian kata "Mart". Begitu ada nama usaha yang menggunakan kata Mart, kita langsung mengasumsikannya pada usaha ritel. Begitupun dengan produk seperti "Freshtea." Tanpa berpikir dua kali kita langsung tahu produk jenis apakah dia. Begitupun seperti "Sritex" yang dari namanya saja kita bisa menyimpulkan bahwa perusahaan ini bergerak dibidang garmen atau tekstil.


Sritex, selain kata tex mencerminkan jenis usaha, Sri merupakan nama pendiri perusahaan...
(sumber gambar: senyumislam.wordpress.com)

Pemilihan nama seperti ini tidaklah mutlak. Namun seringkali dipakai sebagai cara untuk membuat masyarakat lebih mengenali idientitas produk tersebut. Hal ini akan menghemat usaha produsen untuk mengenalkan jenis produk atau usaha yang digelutinya.

Tidak jarang pula nama bisa memberikan cerminan kualitas. Seperti produk-produk keluaran "Indofood." Dengan penggunaan nama-nama berawalan "Indo" di depan berbagai lini usahanya, maka brand akan berbagi popularitasnya. Akibatnya jika ada sebuah produk baru dari perusahaan tersebut, orang-orang akan mengasumsikan kualitas produk tersebut dengan produk-produk yang sama yang telah ada.

Sebaliknya, perbedaan nama juga bisa digunakan sebagai pembeda untuk brand image yang menyasar pangsa pasar yang berbeda pula. Seperti halnya dua produk dijenis yang sama dari "Uniliver". Meski sama-sama sabun mandi, namun "Lux" dan "Lifeboy" memilik brand image yang berbeda. Karena berupa sabun kecantikan serta menyasar kalangan menengah keatas, maka "Uniliver" menamakan produknya dengan "Lux" yang memiliki kesan mahal dan mewah. Sementara untuk menyasar pangsa pasar keluarga, nama "Lifeboy" terasa jauh lebih merakyat dan sesuai dengan image-nya sebagai sabun kesehatan.

Tentu nama hanyalah salah satu dari banyak aspek yang menentukan sukses tidaknya sebuah bisnis. Tapi bagi perusahaan-perusahaan besar, mereka bahkan sampai harus menyewa jasa konsultan untuk menciptakan nama bagi usaha maupun produk yang mereka ciptakan. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya peran sebuah nama dalam dunia bisnis.

Tapi seperti juga dalam dunia bisnis, sehebat apapun nama yang dimiliki namun yang paling menentukan tetaplah kualitas produk. Karena itu terserah mau nama kita "Tuhan" ataupun "Saiton," yang paling menentukan tetap adalah kualitas diri kita sendiri.

Bagaimana, setuju tidak?
Copyright © 2014 SANTOSA-IS-ME