Tampilkan postingan dengan label Traveling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Traveling. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 Mei 2016

SERUNYA BERBURU KULINER HALAL DI HATYAI

Bagi mereka yang gemar melancong, menikmati wisata kuliner di tempat tujuan jelas merupakan suatu keharusan. Kekayaan tradisi dan budaya dari tempat yang dituju sering kali membuat kita menemukan berbagai sajian unik yang mungkin tidak dapat ditemui di tempat asal. Memang belum tentu akan cocok dengan selera lidah, tapi mencoba sesuatu yang baru bukankah itu indahnya dari sebuah perjalanan.

Hanya saja buat yang muslim, menemukan makanan halal bisa jadi tantangan tersendiri terutama jika melancong ke negara dengan mayoritas penduduknya beragama selain Islam. Jangan harap kita bisa menemukan makanan halal di semua tempat seperti di Indonesia. Salah-salah memilih menu, bisa jadi kita melanggar larangan agama. 

Thailand adalah negara bermayoritas penduduk beragama Budha. Negara gajah putih ini cukup mendunia sebagai negara kunjungan wisata termasuk bagi para pelancong asal Indonesia. Bangkok, Phuket dan Pattaya menjadi nama destinasi wisata favorit yang dikunjungi banyak pendatang tiap saban tahun.

Tapi buat mereka yang tidak ingin terlalu dipusingkan dengan pencarian makanan halal jika ingin ke Thailand dapat mengunjungi Hatyai. Nama Hatyai cukup terkenal dikalangan para backpacker. Umumnya menjadi tempat transit bagi para pelancong yang hendak menjelajah Thailand lewat jalur darat. Padahal Hatyai sendiri memiliki pesona wisata yang tidak kalah menariknya dibanding kota-kota lain di Thailand.
Suasana salah satu sudut kota Hatyai
(sumber : dokumen pribadi)
Di Hatyai, jumlah penduduk muslim cukup signifikan. Karenanya berburu kuliner di salah satu kota terbesar di Thailand itu cukup menenangkan. Tidak sulit menemukan makanan-makanan dengan penanda halal di sini. Berbagai menu khas Thailand-pun dapat dijumpai. Ditambah lagi letak kota ini yang berdekatan dengan lintas batas Malaysia, membuat makanan dengan corak melayupun masih bisa ditemui.

Saat sore, menjelang malam, adalah saat yang tepat untuk berburu kuliner di Hatyai. Ada dua tempat yang bisa menjadi pilihan. Yang pertama adalah area pedagang kaki lima di sekitar Le Garden plaza. Setiap sore menjelang malam, area di sekitar pusat perbelanjaan tersebut akan begitu meriah dengan deretan para pedagang kaki lima.

Tempat lainnya adalah Hatyai Floating Market. Tidak sepopuler Bangkok Floating Market memang, namun tidak kalah meriahnya. Untuk mencapai tempat itu kita bisa menggunakan Tuk-tuk sekitar 20 menit dari pusat kota. Di tempat ini deretan pedagang dengan sampan atau perahu terapung-apung menjajakan dagangannya. Kebanyakan adalah makanan dan camilan dengan tampilan yang sangat menarik. Sayang pasar terapung ini hanya buka di sore akhir pekan saja.
Banyak pedagang muslim di Hatyai
(sumber : dokumen pribadi)
Jika berkunjung ke Hatyai dan Thailand kelak, setidaknya ada beberapa menu kuliner yang patut dicoba berdasarkan pengalaman saya berburu kuliner di Hatyai. Lapak-lapak pedagang makanan halal biasanya ditandai dengan logo tulisan halal berbahasa arab, kaligrafi nama Allah dan Rasulullah, atau lambang bulan-bintang.

1. Aneka Jajanan dan Makanan Ringan

Menyusuri jalan-jalan disekitar Lee Garden Plaza memang butuh ketebalan iman yang besar. Deretan jajanan terpajang dengan meriah di kanan dan kiri jalan yang dipenuhi pejalan kaki. Mulai dari potongan ayam panggang dengan potongan besar, sosis dan meatball beraneka macam, hingga udang dan cumi yang aromanya begitu menggoda. Biasanya jajanan yang digemari banyak orang ini dimakan dengan saus khas Thailand yang unik dan kaya dengan rasa asam.

Beberapa jenis panganan manis juga ada di sini, seperti Kanom Krok yang terlihat seperti kue cubit yang terbuat dari kelapa atau Kanom Buang, seperti kue semprong namun diberi berbagai toping yang biasanya manis namun ada juga yang asin. Selain itu juga buah-buahan segar yang siap makan juga bertebaran dibanyak lapak. Berhati-hatilah untuk tidak keburu kenyang oleh camilan-camilan ini selagi berburu makanan utama.

 2. Som Tam

Menu satu ini adalah menu wajib buat penggemar salad. Som Tam terdiri dari taoge dan potongan mangga dan pepaya muda. Ditambah potongan kacang panjang, tomat dan mentimun kemudian disiram dengan saus khasnya yang asam-pedas. Membuat menu satu ini jadi begitu menyegarkan.
Som Tam, Salad khas Thailand
(sumber : dokumen  pribadi)
 3. Manggo Sticky Rice

Yang satu ini cukup populer di Indonesia belakangan ini. Sekilas menu ini sangat sederhana. Potongan mangga dengan beras ketan yang halus kemudian disiram dengan santan susu yang manis dan kental. Rasanya? Benar-benar memanjakan lidah. Entah benar atau tidak, tapi konon banyak yang bilang Manggo Sticky Rice di Thailand jauh lebih enak, berasnya lebih pulen, mangganya pun lebih manis.

 4. Pad Thai

Ini adalah mie siram khas Thailand. Bentuk mienya mirip dengan kwetiaw namun berukuran lebih kecil. Biasanya ditambahkan pula potongan sea food dan juga taoge lalu disiram dengan saus yang asam-pedas. Wujudnya mirip seperti mie goreng, namun dengan sensasi masam yang unik.
Semacam Kwetiaw, tapi mienya lebih ramping...
(sumber : dokumen pribadi)
 5. Tom Yam

Jauh-jauh datang ke Thailand tidak mencoba makanan khas satu ini rasanya tidak sah. Orisinalitas adalah sebabnya, karena di negeri asalnya ini Tom Yam terasa lebih asam, pedas dan beraroma yang khas. Kalau soal isi mungkin sama, namun kekayaan rasa kuahnya bakal bikin kita bingung versi mana yang lebih enak.

 6. Hoy Tod

Makanan bernama Hoy Tod ini begitu populer di Hatyai. Padahal street food satu ini cukup sederhana. Mirip dengan telur dadar biasa, namun diberi tiram sebagai isian. Bukan Cuma itu, dibawahnya biasa ada taoge yang jadi pelengkap. Orang Thailand memang sepertinya sangat menyukai taoge.
Hoy Tod, mirip tlur dadar, dibawahnya ada banyak taoge
(sumber : dokumen pribadi)
 7. Thai Tea

Jika memesan Es Teh di Thailand, mungkin kita akan kaget karena mendapati minuman yang berbeda dengan yang kita temui di Indonesia. Es Teh di Thailand warnanya lebih gelap dan ada rasa pahitnya. Tidak jarang kita menemui Es Teh di Thailand dicampur pula dengan susu atau santan kelapa.

Masih banyak kekayaan kuliner yang bisa dicoba di Hatyai, mulai dari yang normal hingga yang paling ekstrim sekalipun. Pada dasarnya jangan pernah malu bertanya tentang kehalalan makanan yang kita beli karena di Hatyai cukup banyak yang bisa bahasa melayu. Para pedagang biasanya dengan senang hati menjelaskan. Dan jangan lupa, baca Basmalah dan baca doa sebelum makan ya.

Rabu, 16 Maret 2016

HAT YAI, PESONA DI SELATAN THAILAND

Bicara soal liburan ke Thailand, nama Bangkok, Pattaya dan Phuket mungkin bakal jadi pilihan destinasi utama. Namun bukan berarti kota-kota lainnya tak layak kunjung. Terutama untuk mereka yang lebih menikmati ketenangan dan interaksi sosial dengan masyarakat lokal, Hat Yai patut dijadikan salah satu list tujuan.

Hat Yai adalah kota terbesar di daerah selatan Thailand. Berada di provinsi Songkhla yang berbatasan langsung dengan Malaysia, menjadikan corak budaya di kota ini begitu unik. Meski dominan dengan budaya Thai dan agama Budha seperti kebanyakan wilayah Thailand, namun perempuan-perempuan berjilbab bukanlah sesuatu yang asing disana. Mencari makanan halal pun sangatlah mudah. Banyak pula penduduk Malaysia yang mencari nafkah di sini. Seorang pengemudi Tuk-tuk (angkutan khas Thailand) yang mengantar saya di salah satu malam saya di Hat Yai mengaku berasal dari Malaysia dan berbahasa melayu dengan fasih. Dan memang orang-orang berbahasa melayu masih bisa dijumpai di kota ini.

Kedatangan saya di Hat Yai adalah untuk menikmati suasana berbeda dari Songkran (tahun baru-nya orang Thailand). Namun sayang saya salah memperhitungkan jadwal. Songkran di Hat Yai tak selama yang di Bangkok, akibatnya ketika saya tiba di Hat Yai, Songkran ternyata telah usai.

Tidak mau perjalanan darat semalaman dari Kuala Lumpur ke Hat Yai sia-sia, maka saya memutuskan menikmati apa saja yang dimiliki oleh Hat Yai. Dan ternyata Hat Yai punya banyak tempat menarik yang membuat saya tidak menyesal pernah mengunjunginya.

Wat Hat Yai Nai

Wat Hat Yai Nai adalah kuil Budha yang terdapat patung Budha tidur (Reclining Buddha) raksasa di sana. Konon kabarnya ini adalah patung Budha tidur raksasa terbesar ketiga di dunia. Tidak hanya patung Budha raksasa, di area kuil juga terdapat beberapa bangunan yang berukuran lebih kecil. Di dalamnya terdapat berbagai patung Budha dalam berbagai posisi dan wujud. Ada patung Budha tertawa, ada patung Budha anak-anak, bahkan juga ada patung ular berkepala tujuh.

Di depan Wat Hat Yai Nai...
(sumber : dok pribadi)
Selain kuil, juga terdapat pemakaman yang jadi tempat kunjungan ziarah masyarakat Thailand pada musim Songkran (tahun baru). Ruangannya terdapat tepat di bagian punggung patung Budha tidur raksasa tersebut.

Lee Garden Plaza

Saya bukan penggemar wisata belanja, jadi tentu bukan benar-benar Lee Garden Plaza yang saya maksud. Melainkan deretan pedagang makanan kaki lima di depannya. Semenjak jam empat sore, halaman depan Lee Garden Plaza dan sekitarnya akan menjadi tak ubahnya surga bagi para pencinta street food seperti saya.

Ayam Bakar, Cumi kering, buah-buahan segar, aneka macam sosis terpajang di pinggir-pinggir jalan dan aromanya terbang bebas memenuhi udara. Makanan-makanan berat macam Tom Yam, Som Tam, Manggo Sticky Rice hingga Nasi Lemak juga tersedia. Beberapa pedagang souvenir tak ketinggalan menggelar dagangannya.


Salah satu lapak ayam bakar di area sekitar Lee Garden Plaza
(sumber: dok pribadi)
Jika ingin lebih puas berbelanja souvenir atau oleh-oleh, Pink Lady Market yang juga terletak tidak jauh dari kawasan tersebut bisa jadi pilihan. Disana terdapat berbagai jenis oleh-oleh bahkan yang bertuliskan Bangkok, Pattaya atau Phuket sekalipun.

Kim Yong Market

Hat Yai memang surga belanja murah. Letaknya yang jadi penghubung dari Malaysia dengan kota-kota besar lain di Thailand menjadikannya kota perdagangan yang sibuk. Salah satunya bisa dilihat di Kim Yong Market.

Berderet-deret pedagang kaki lima menggelar lapak dagangannya. Mulai dari makanan ringan, oleh-oleh, buah-buahan, bunga, perkakas rumah tangga, jimat, perlengkapan sembahyang, pakaian hingga lotre. 
Kim Yong Market tampak depan...
(sumber gambar : dok pribadi)
Sedikit kesulitan adalah tidak banyak pedagang di sana yang bisa berbahasa Inggris. Beruntung jika mendapati pedagang yang bisa berbahasa melayu, namun jika tidak, terpaksa menggunakan bahasa isyarat.

Hat Yai Municipal Park

Taman ini berada sedikit di pinggir kota, setidaknya itu yang saya duga. Taman ini sangat-sangat luas dan terdiri dari beberapa bukit. Ada banyak aktivitas yang bisa dilakukan. Taman ini mempunyai danau yang luas dengan ikan-ikan di dalamnya. Selain itu juga ada parade lampion berbagai bentuk yang menambah keindahan taman tersebut.

Di Hat Yai Municipal Park ada tiga tempat tujuan yang layak kunjungi. Yang pertama adalah kuil Brahman yang dipenuhi dengan patung-patung Gajah. Untuk tiba di kuil ini bisa dengan menggunakan kereta gantung. Selain kuil Brahman ada juga patung budha emas raksas yang menghadap kota Hat Yai. 
Patung Budha Emas Raksas di atas bukit Hat Yai Municipal Park
(sumber: dok pribadi)
Seperti halnya Kuil Brahman, patung Budha emas ini juga berada di puncak bukit. Agak turun ke bawah, ada patung Dewi Kwan Im dan juga kuil berisi patung dewi Kwan Imm yang menunggang dua belas lambang shio. Kesempatan melihat keindahan Hat Yai dari ketinggian, menjadikan tempat ini harus jadi persinggahan kala datang ke Hat Yai.

Klong Hae Floating Market

Ternyata Hat Yai juga punya Floating Market yang bisa jadi tujuan kunjungan buat para wisatawan. Memang tidak buka tiap hari dan berada agak jauh dari pusat kota, namun tempat ini tidak layak untuk dilewatkan begitu saja.

Di sini kita bisa berbelanja berbagai macam hal, terutama makanan. Berderet-deret perahu dengan muatan barang dagangan siap menunggu kita. Kemampuan bertransaksi dengan baik dibutuhkan untuk mendapatkan harga terbaik. Pesan saya sih jangan terburu-buru memutuskan, karena barangkali akan ada banyak pilihan yang jauh lebih baik dan menggiurkan di depan sana.
Klong Hae, Hat Yai Floating Market
(sumber gambar: triehartanto.blogspot.com)
Dan jika berkunjung dengan Song Teaw, ingat pula untuk jangan sampai kemalaman. Biasanya jam tujuh ke atas Song Teaw sudah menghilang dari jalanan.  Terpaksa naik Tuk-tuk artinya harus siap untuk menawar dengan kejam kembali.

Pantai Shamila

Berada di kota Shongkla, yang tetap bisa dijangkau dari Hat Yai. Di pantai ini terdapat patung putri duyung yang melegenda. Keindahan pantai berpasir dilengkapi deretan restoran sea food berharga terjangkau. Penggemar makanan laut, tidak akan melewatkan tempat satu ini.

Cukup berjalan kaki dari pantai, ada Tang Kuan Hill. Di puncaknya terdapat semacam kuil berstupa dan patung Budha. Serupa dengan beberapa tempat lain di dunia, di sini juga ada tempat untuk “gembok cinta.” Barangkali juga ada mitos yang sama bahwa siapa yang mengaitkan gembok yang telah ditulis nama pasangan akan langgeng. 


Deretan gembok cinta yang bikin baper...
(sumber gambar : tukangjalanjajan.com)
Terlepas dari legenda apapun, menikmati dari ketinggian keindahan kota Songkhla yang berbatasan dengan laut sudah cukup jadi alasan untuk datang ke sini.


Pulau Ko Yo 

Dari Tang Kuan Hill kita akan bisa melihat sebuah pulau ditengah danau luas yang terhubungkan dengan sebuah jembatan. Itulah Ko Yo Island yang berada di tengah danau Shongkla. 


Pulau Ko Yo (yang dihubungkan dengan jembatan) dilihat dari puncak Tang Kuan Hill
(sumber gambar: dok pribadi)
Di pulau Ko Yo juga terdapat patung Budha tidur berwarna emas. Selain itu ada juga patung kepala naga raksasa yang konon merupakan salah satu legenda nelayan di daerah Songkhla. Di danau Shongkla juga tersedia feri yang bisa kita naiki untuk mengeksplor danau Shongkla.

Yah, tempat-tempat tersebut mungkin hanya beberapa destinasi yang kebetulan telah terkenal saja. Ada banyak pengalaman menyenangkan yang bisa didapatkan di Hat Yai entah sebagai kota persinggahan ataupun lebih dari itu. Bahkan dengan sekedar berkeliling kota, berinteraksi dengan penduduknya atau menikmati Thai Massage di sana, kita pasti akan setuju bahwa Hat Yai memang layak dikunjungi.

Senin, 18 Januari 2016

MENELUSURI INDAHNYA SISA-SISA BATAVIA

Tidak banyak tempat yang ingin saya kunjungi ketika ke Jakarta. Saya yang terbiasa hidup di sebuah kota kecil yang tenang dan lambat merasa Ibu kota tersebut bukan tempat yang cukup nyaman untuk ditinggali. Karenanya sebelum-sebelumnya saya hanya datang ke sana untuk kepentingan perkerjaan tanpa rencana berplesiran sama sekali. Jikapun ada, hanya mengikuti rencana yang telah disusun oleh teman seperjalanan.

Namun jika dipaksa harus menyebutkannya, maka kota tua pastilah akan jadi salah satunya. Karena itulah, tatkala kemarin hari saya berkesempatan ber-solo travel ke Jakarta, kota tua menjadi salah satu tujuan yang paling ingin saya datangi.

Bermodalkan GPS dan informasi dari internet, saya berjalan sendirian menuju situs wisata resmi kota Jakarta tersebut. Akses menuju Kota Tua sendiri sangat mudah. Ada banyak pilihan yang bisa digunakan. Taksi adalah yang paling mudah tentu saja, tapi dengan biaya yang lumayan bikin sesak kantong, terlebih lagi kalau jalannya sendirian. Alternatif lain yang cukup murah adalah bus Trans-Jakarta alias Busway. Salah satu perhentian atau halte trans-Jakarta berada tepat di depan kawasan kota Tua. Dengan biaya kurang dari sepuluh ribu rupiah dari koridor manapun, menggunakan Busway adalah alternatif favorit yang layak untuk dipilih. Menggunakan KRL juga memungkinkan yaitu dengan berhenti di Stasiun Jakarta Kota. Dari sana sudah cukup dekat untuk berjalan kaki menuju kawasan kota tua. Saya sendiri memilih menggunakan jasa ojek online yang sedang booming saat itu. 

Saat tiba di kawasan kota tua jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Jalanan di sekitar kawasan kota tua lumayan macet karena ramainya arus lalu lintas dari dan menuju ke kota tua. Saya baru ingat bahwa hari itu hari Sabtu dan si supir ojek saya mengingatkan bahwa kawasan kota tua selalu ramai jika akhir pekan seperti itu. Tidak tahan macet, saya akhirnya memutuskan turun dan memilih berjalan kaki menuju tempat yang saya tuju. 

Ondel-ondel yang jadi ciri khas budaya betawi dan museum Fatahillah...
(sumber: dok. pribadi)
Kawasan kota tua sendiri menjadi tempat yang sangat ramai di akhir pekan khususnya sabtu sore menjelang malam. Tempat tersebut menjadi salah satu tempat berkumpulnya anak-anak muda Jakarta dengan segala macam aktivitasnya. Tidak jarang pula di tempat tersebut diadakan pagelaran musik kecil-kecilan. Bahkan tampaknya pemerintah kota memang menjadikan tempat tersebut sebagai salah satu tempat keramaian di Jakarta. Jadi jangan berharap bisa lalu lalang dengan luasa apalagi berkeliling dengan sepeda ontel di sana pada waktu-waktu tersebut.

Museum Fatahillah menjadi bangunan utama di kompleks kota tua Jakarta. Di depannya, terdapat sebuah lapangan luas yang disebut sebagai Taman Fatahillah. Karena saya mengunjungi taman ini pada sabtu sore, tidak heran taman ini dipenuhi oleh muda-mudi kota Jakarta yang hendak menghabiskan malam minggu di sana. Sayangnya museum Fatahillah hanya buka hingga pukul 3 sore. Karena itu jika ingin masuk, kita harus datang lebih awal.

Di sekeliling taman Fatahillah juga terdapat banyak bangunan peninggalan jaman Belanda lainnya. Beberapa difungsikan sebagai museum, seperti museum wayang serta museum seni rupa dan keramik. Yang menarik adalah gedung kantor Pos yang berdiri tepat di seberang gedung museum Fatahillah. Konon kabarnya, itu adalah kantor Pos tertua di kota Jakarta yang sudah berdiri semenjak dari zaman Belanda dan masih beroperasi hingga hari ini.


Bangunan-bangunan tua ini masih digunakan hingga kini...
(sumber: dok. pribadi)
Selain menikmati eksotisme bangunan tua sisa-sisa Batavia, kita juga bisa menemukan berbagai pertunjukan seni di taman Fatahillah. Saat saya berkunjung kemarin bahkan sedang diadakan sebuah panggung musik kecil-kecilan. Selain itu banyak seniman manusia patung, cosplay bahkan juga badut yang berkeliaran dan bisa kita ajak berfoto bersama. Ada yang berpenampilan seperti pejuang kemerdekaan, noni-noni Belanda bahkan yang tidak berhubungan sama sekali seperti drakula bahkan kuntilanak.

Lelah berjalan-jalan menyusuri kota tua, kita bisa singgah ke berbagai kafe dengan dekorasi klasik khas Belanda di sana. Saya tidak mencoba masuk, jadi saya juga tidak begitu tahu menu apa yang ditawarkan di sana. Selain kafe, di sana juga tidak lepas dari dua waralaba mini market yang memungkinkan kita untuk berbelanja minuman ataupun makanan ringan. Pilihan lainnya ada di pasar kuliner yang terletak di salah satu lorong di kota tua. Berbagai macam street food entah yang berciri khas Jakarta seperti Soto betawi atau Kerak Telor hingga jajanan umum semacam Bakso Malang atau Sosis Bakar bisa jadi pilihan untuk mengganjal perut. Di ujung pasar kuliner ini, ada berjejer kios yang menjual berbagai macam barang mulai dari kaos hingga cinderamata yang cocok untuk dijadikan oleh-oleh. Tampaknya ada juga jasa sewa sepeda bagi yang ingin berkeliling kawasan tersebut sambil bersepeda.

Salah satu cafe bergaya klasik Batavia lama
(sumber: dok. pribadi)
Sore beranjak hingga malam. Bagi saya menikmati kota tua perlu waktu yang lebih panjang dari sekedar beberapa jam yang saya miliki di sana. Suasananya yang klasik menghadirkan kesan yang romantis. Tidak heran, banyak pasangan yang menghabiskan waktu berlama-lama bercengkrama di sana.

Seperti Braga di Bandung, kawasan Kota Tua Jakarta akan selalu jadi tempat favorit saya jika berkesempatan kembali ke ibu kota. Di tengah metropolisnya Jakarta yang serba kompetitif, kota tua seperti membawa kita menghentikan waktu dan mengajak kita larut dalam sejarah. Mengajak kita kembali mengenang keindahan yang tersisa dari Batavia tempo dulu.

Tetap ramai sampai malam, mungkin karena akhir pekan.
(sumber: dok. pribadi)

Selasa, 12 Januari 2016

BERKUNJUNG KE SURGA DI EKOR BORNEO

Nama desa Temajuk memang menjadi cukup populer kala beberapa waktu yang lalu sering disebut-sebut dalam kaitannya dengan dugaan pergeseran patok batas Indonesia–Malaysia di daerah tersebut. Sebelumnya daerah itu hanyalah sebuah desa kecil terisolasi yang menuntut perjuangan ekstra untuk mencapai ke sana. Tapi saya sendiri telah duluan mengenalnya dari beberapa tulisan teman-teman di dunia daring yang menyebut-nyebutnya sebagai “Surga di ekor Borneo.”

Peta wisata Desa Temajuk di Penyeberangan Ciremai
(sumber gambar: dok. pribadi)
Medio 2009-2011 lah saya pertama berkenalan dengan cerita tentang daerah batas negara tersebut. Kala itu saya sedang gandrungnya mencari informasi di internet dan salah satunya mengenai tempat-tempat eksotis di Kalimantan Barat. Camar Bulan adalah yang termasuk sering disebut oleh banyak pejalan. Konon katanya Camar Bulan memiliki pantai yang indah dan alami. Tepat untuk para penggemar pantai Kalbar yang telah bosan dengan pantai-pantai di sepanjang pesisir Bengkayang dan Singkawang.

Tapi dalam banyak kisah perjalanan tersebut, diceritakan pula bahwa akses menuju Camar Bulan tidak mudah. Satu-satunya kendaraan yang bisa digunakan hanyalah sepeda motor yang harus menyusur tepian pantai. Jalur laut memungkinkan dilewati, namun bukan cara populer yang digunakan oleh para pejalan maupun masyarakat sekitar. Dengan sepeda motorpun tidak selalu mulus. Jalan pantai berpasir jelas bukan medan mudah bagi mereka yang tidak biasa. Jika musim air pasang ataupun ada aliran sungai menuju laut yang meluap besar, tidak jarang jalan jadi tak bisa dilewati dan harus menunggu air surut. Kalaupun nekat terus jalan, menggotong sepeda motor adalah satu-satunya cara. Jadi, kalau ingin melihat sepeda motor yang menaiki manusia, ngobrol saja dengan penduduk Camar Bulan, hampir semua mereka pernah mengalaminya.

Jalan antara Sambas menuju desa Temajuk yang rusak parah
(sumber gambar: dok. pribadi)
Meski telah mencita-citakannya sejak lama, namun saya tidak pernah kepikiran akhirnya sampai ke sana. Dahulu membayangkan medan sedemikian berat, jarak yang sebenarnya masih dalam satu provinsi itu terasa jauh sekali. Bahkan Kuala Lumpur terasa begitu dekatnya. Karena dengan penerbangan murah dari maskapai “Everyone Can Fly,” satu jam setengah saja kita sudah bisa berada di sana.

Tapi akhirnya, di pengujung 2015 kemarin, saya akhirnya berhasil menginjakkan kaki ke sana. Berawal dari tawaran mengikuti field trip hasil kerja sama WWF program Kalimantan Barat dan Radio Volare, saya langsung meng-iya-kan tanpa berfikir panjang. Meski berlabel “tugas liputan,” namun setidaknya ini jadi ajang liburan sekaligus penuntasan cita-cita untuk ke sana sejak lama. Kalau dalam perkara traveling, 2015 memang jadi tahun penuntasan banyak keinginan lama.

Perjalanan menuju desa Temajuk memang tidak mudah. Meski sekarang tidak lagi terisolasi, namun tetap saja melelahkan. Perjalanan Pontianak ke Sambas, kota kabupaten Camar Bulan saja membutuhkan waktu sekitar delapan jam. Tidak ada alternatif lainnya, jalur darat adalah satu-satunya cara ke sana. Kalau pun ada lewat udara dengan helikopter, tentu itu bukan pilihan bagi masyarakat biasa seperti saya. Kemudian dari Sambas ke Dusun Camar Bulan sendiri, butuh waktu tempuh sampai tujuh jam sudah termasuk makan siang dan menunggu di dua penyeberangan. Untungnya meski masih rusak, kini sudah ada jalan untuk sampai ke dusun Camar Bulan sehingga bisa ditempuh dengan kendaraan roda empat.

Menyeberangkan mobil dengan perahu kayu bukan hal yang aneh di sana
(sumber gambar: dok. pribadi)
Dan seperti yang telah banyak dikabarkan oleh orang-orang, Desa Temajuk adalah salah satu objek wisata yang layak dikunjungi di Kalimantan Barat. Ada banyak hal menarik yang bisa dijumpai di sana. Selain pantai indah dengan keindahan bawah airnya, pantai desa Temajuk dan sekitarnya adalah tempat peneluran penyu. Jika beruntung, kita bisa mendapati penyu-penyu yang naik ke pantai untuk bertelur. Makanan lautpun mudah sekali dijumpai di sana. Dan yang tidak kalah menariknya adalah keunikan corak hidup masyarakat dua negara yang saling bertetangga. Jangan kaget jika ke sana, kita akan menemukan fakta yang nyatanya jauh dari praduga umum yang terbentuk saat ini. Serta jangan lupa, di sini ada Tanjung Datok, mercusuar penanda tempat dimana awal tapal batas Indonesia–Malaysia dimulai. Dengan sedikit usaha lebih kita mungkin berkesempatan sampai di sana.

Mengunjungi Camar Bulan memang tidak akan puas jika menggunakan kendaraan roda empat seperti yang saya lakukan kemarin. Ada banyak tempat yang hanya bisa tereksplor dengan kendaraan roda dua. Termasuk salah satunya mengunjungi resort milik pak Atong. Nama terakhir ini adalah nama yang paling sering disebut-sebut oleh para teman pejalan yang pernah berkunjung ke sana di catatan halaman daring mereka kala Camar Bulan belum sepopuler sekarang. Sayang saya tidak berkesempatan menemuinya dan berbagi cerita dengan beliau.


Suasana senja di dermaga Camar Bulan
(sumber gambar: dok. pribadi)
Cerita lengkapnya bisa dibaca di sini.

Minggu, 03 Januari 2016

SARAWAK EKSPO, CARA MALAYSIA BERPROMOSI WISATA

Kalimantan memang pulau yang unik. Salah satu pulau terbesar di dunia ini, dihuni oleh 3 negara berbeda yang berbagi daratan bersama, Brunei Darussalam, Malaysia, dan tentu saja Indonesia. Karena itulah "jalan-jalan ke luar negeri" bukan sesuatu yang terlalu luar biasa. Apalagi untuk mereka yang tinggal di perbatasan. Barangkali mereka bisa bolak-balik antar negara berkali-kali dalam satu hari.

Saya sendiri pernah melakukan perjalanan dari Pontianak (Kalimantan Barat, Indonesia) menuju Kuching (Sarawak, Malaysia). Membutuhkan waktu hampir semalaman untuk akhirnya bus yang saya tumpangi tiba di Kuching Sentral, terminal bus antar negara di Kuching. Selain lama, namun juga tidak mudah karena kondisi jalan yang cukup tidak ramah. Kerusakan di sana-sini bukan perkara sulit untuk dijumpai sepanjang perjalanan. Tapi angkutan bus antar negara adalah alternatif murah untuk bisa jalan-jalan ke luar negeri. Jika datang berombongan, menyewa kendaraan bisa jadi pilihan lainnya. Beruntung buat yang punya kendaraan pribadi, asalkan tahu rute dan memiliki paspor, perjalanan bahkan bisa jauh lebih hemat lagi.

Sayangnya pengalaman saya pergi ke Kuching sebelumnya tidak memberi kesempatan untuk mengeksplor kota yang jadi ibukota negara bagian Sarawak itu. Kedatangan saya hanya untuk transit menuju bandara lalu melanjutkan terbang ke Kuala Lumpur. Karena itulah, pengalaman perjalanan saya di Kuching hanyalah sebatas dari Kuching Sentral ke Kuching International Airport yang jaraknya sangat dekat dan masih bisa dicapai dengan berjalan kaki.

Karena berbagi daratan inilah, sudah selayaknya ketiga negara ini menjadikan negara tetangganya (terutama untuk wilayah yang berbatasan) sebagai target kedatangan wisatawan. Oleh sebab itulah, tidak heran jika pemerintah masing-masing berlomba-lomba menawarkan berbagai macam model paket wisata. Saya tidak tahu pemerintah Indonesia dan Kalimantan Barat, tapi itulah yang dilakukan oleh Sarawak Tourism Board yang mengadakan Sarawak ekspo di Ayani Mega Mall Pontianak, selama 2 hari pada 28-29 November 2015 kemarin.
Stand utama Sarawak Tourism Board.
(sumber: tukangjalanjajan.com)
Malaysia untuk ukuran asia tenggara boleh dibilang menjadi salah satu negara tujuan kunjungan wisata utama, mungkin hanya kalah dari Thailand (dan Bali, jika seandainya Bali adalah sebuah negara) yang namanya memang sudah kesohor hingga eropa dan amerika. Satu hal yang menarik adalah keberhasilan pemerintah Malaysia mengembangkan pariwisatanya secara merata. Memang Kuala Lumpur, Genting, Penang dan Johor Baharu masih jadi primadona wisata Malaysia. Namun di kota-kota lainpun pariwisatanya mulai menggeliat. Salah satunya adalah Sarawak yang berada di bagian utara Kalimantan Barat, provinsi yang saya tinggali.

Menghadiri Serawak Ekspo kemarin menunjukkan kepada saya betapa pemerintah Sarawak begitu serius mengelola pariwisatanya. Begitu mudah mendapatkan informasi dan peta berbagai tempat menarik yang bisa dikunjungi baik di seluruh Malaysia maupun Sarawak pada khusunya. Semua marketing tool-pun dibuat demikian menarik dan mudah difahami.

Selama ini saya sendiri hanya mengetahui Kuching sebagai tempat tujuan yang bisa dikunjungi di Sarawak sana. Nyatanya, berdasarkan Sarawak Visitor's Guide yang saya dapat ada banyak tempat menarik lainnya yang layak kunjung bagi para turis. Objek wisata yang ditawarkanpun terbilang beragam, mulai dari wisata budaya, sejarah hingga wisata ekologi. Dengan hutan yang masih sangat asri (yang seharusnya di Indonesia juga ada) dan masyarakat lokal yang bersahabat, wisata ekologi ini cukup menarik minat banyak wisatawan.

Sarawak sendiri secara garis besar dapat dibagi dalam 3 bagian yaitu Sarawak Barat Daya dengan kota penting seperti Kuching, Sentubong, Samarahan dan Sri Aman. Sarawak Tengah dengan kota Sibu, Sarikei dan Mukah, serta Sarawak Timur Laut dengan Miri dan Bintulu sebagai dua kota terbesarnya. Kuching sebagai kota terbesar di Sarawak punya banyak landmark yang layak untuk dikunjungi. Wisata budaya terwakili dengan mengunjungi situs budaya Cultural Village yang ada tak jauh dari Damai Beach. Suka Dayak Iban dan Bidayuh yang ada di Sarawak juga memiliki rumah panjang dan kekayaan budaya yang bisa dinikmati para turis. Berbagai taman nasional layak pula jadi pilihan untuk para penikmat wisata ekologi dan alam liar. Berbagai pantai dan wisata bahari mulai dari Sentubong hingga Miri melengkapi penawaran wisata di Sarawak.

Kalender event wisata di Sarawak juga menjadi salah satu hal yang layak menjadi pertimbangan rencana wisata. Rainforest World Music Festival yang berlangsung sekitar bulan Agustus telah memiliki nama tingkat Internasional. Saya melihat sendiri dalam gambar bergerak yang ditayangkan di ekspo tersebut bagaimana suasana kemeriahan salah satu event musik yang sepertinya layak untuk dikunjungi, terutama buat pencinta musik dengan aroma budaya. Selain itu ada pula, Borneo Jazz, Gawai Dayak, Borneo Cultural Festival, serta berbagai event yang berlangsung sepanjang tahun.


Brosur wisata yang lengkap dan informatif
(sumber: tukangjalanjajan.com)
Menyadari kunjungan ke Sarawak dari Pontianak tidak hanya dominasi oleh para turis, Sarawak ekspo juga hadirkan stand dari Rumah Sakit dan Universitas di Sarawak. Bukan rahasia lagi, jumlah warga Pontianak yang berobat ke RS di Sarawak terbilang cukup signifikan. Untuk universitas asal Sarawak sendiri mungkin belum jadi salah satu pilihan untuk muda-mudi Pontianak. Namun siapa tahu, dengan diselenggarakannya ekspo ini angka warga Indonesia yang belajar ke Malaysia khususnya di Sarawak akan meningkat. Selain itu, Sarawak Ekspo juga hadirkan Travel Agent dan maskapai penerbangan dari dan ke Sarawak. Dari sinilah saya baru tahu, ternyata harga tiket pesawat Pontianak-Kuching terbilang cukup murah.

Sarawak Ekspo adalah bukti bagaimana Malaysia begitu serius mengembangkan wisatanya bahkan untuk wilayah seperti Serawak yang bukan main land dari negara tersebut. Tidak heran, di tahun 2013, Malaysia dengan kampanye "Malaysia, Truly Asia"-nya berhasil masuk dalam 10 besar negara dengan kunjungan tertinggi pada tahun tersebut.

Saya sendiri yakin, Indonesia punya kekayaan yang lebih hebat dari negara sebelah itu. Yang perlu dilakukan sekarang hanyalah maukah kita sedikit merendahkan diri dan serius belajar pada negara sebelah yang mau tidak mau harus kita akui, lebih sukses membangun dan mempromosikan pariwisatanya ketimbang kita.
Ramainya pengunjung ekspo.
(sumber: tukangjalanjajan.com)

Senin, 05 Oktober 2015

SOLO TRAVELER, WHY NOT?

Doyan traveling?

Saya rasa tidak ada yang tidak menyukai menjadi seorang traveler. Karena secara naluriah manusia itu menyukai hal-hal baru dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Dan menjadi traveler adalah salah satu cara memenuhi dua naluri dasar manusia tersebut.

Hanya saja tidak semua orang bisa bebas melakukan jalan-jalan sesuka hatinya. Ada banyak faktor yang sering kali menjadi penghambatnya. Mulai dari biaya, waktu, usia, sampai bahkan ketakutan-ketakutan yang sebenarnya belum terjadi. Sering teman yang diajak melakukan perjalanan ke luar kota lebih dulu menanyakan "nanti makan apa di sana?" atau "nanti nginapnya dimana?" Padahal dengan teknologi informasi yang serba canggih seperti sekarang ketakutan-ketakutan konyol semacam ini harusnya bisa dijawab dan diatasi.

Buat mereka yang punya jam terbang tinggi di dunia traveling, jalan-jalan sendirian ke sebuah tempat baru mungkin sesuatu yang biasa-biasa saja. Namun untuk orang-orang seperti saya yang jarang traveling dan cuma bisa jalan-jalan ketika diizinkan cuti oleh kantor, pergi ke sebuah tempat baru seorang diri mungkin bukan suatu pilihan yang populer.

Meski begitu, buat mereka yang menyukai tantangan dan mengagungkan kebebasan, solo traveling bisa jadi sesuatu yang menyenangkan. Tapi kan sepi kalau jalan sendirian? Bisa jadi juga, tapi bisa jadi juga nggak. Untuk berwisata ke daerah-daerah perkotaan, menjadi solo traveler menurut saya adalah pilihan yang tepat. Kemudahan akses informasi, keamanan, dan sarana yang lengkap di daerah perkotaan, saya rasa tidak akan membuat kita yang jalan sendirian bakal tersesat. Berikut beberapa hal yang bisa menggambarkan apa yang akan kamu dapatkan ketika melakukan solo traveling.

Tidak perlu menunggu siapa-siapa untuk liburan

Yang paling menguntungkan menjadi seorang solo traveler adalah kita tidak perlu menunggu siapa-siapa untuk melakukan perjalanan. Menjadi solo traveler adalah tentang diri kita sendiri. Begitu kita ada waktu senggang, kita bisa langsung memulai perjalanan.


Solo traveling itu tentang kita dan diri kita sendiri...
(sumber gambar: gbtimes.com)
Perkara waktu ini jangan dianggap sebagai sesuatu yang sepele. Banyak yang tidak jadi berpergian bersama teman-temannya karena tidak berhasil menemukan kesamaan waktu senggang. Terlebih untuk mereka yang sudah berkerja dan terikat dengan jadwal serta target dalam perkerjaan.

Maka kemewahan terbesar seorang solo traveler adalah kebebasan menentukan kapan hendak pergi tanpa harus menunggu atau menyamakan jadwal cuti dengan orang. Bahkan memaksimalkan akhir pekan yang singkat itu dengan traveling pun tidak akan menjadi persoalan.

Bebas menentukan tujuan dan jadwal

Setiap orang yang bertraveling punya preferensi tempat tujuan yang berbeda-beda. Begitupun kesenangannya, ada yang doyan belanja, ada juga yang mementingkan kuliner, atau ada yang fokus pada wisata budaya. Nah, dengan segala macam perbedaan ini ketika kita melakukan traveling bersama, harus ada yang mengalah.

Traveling bersama berarti kita harus siap menekan ego masing-masing. Kita harus belajar berkompromi dengan rekan traveling, entah soal tujuan, jadwal, ongkos, bahkan apa saja. Hal ini semata-mata agar kegiatan traveling menjadi sesuatu yang menyenangkan bagi tiap orang.

Nah, hal-hal tersebut tidak akan kita temui apabila kita melakukan solo traveler. Kita akan bebas menentukan segala sesuatunya seorang diri tanpa perlu memperhatikan pertimbangan orang lain. Mau belanja, makan atau sekedar mencoba mengunjungi tempat-tempat baru, ya silahkan-silahkan saja. Bahkan untuk ikut wisata ekstrem sekalipun, selama kita suka, nggak ada yang jadi penghalang. Selain itu, soal belanja kita bisa bebas mau hemat ataupun boros. Soalnya maklum, kalau bareng teman biasanya kita nggak bisa jor-joran soalnya harus mempertimbangkan teman kita juga kan?

Selain itu, dengan menjadi solo traveler, kita yang impulsif dan suka berubah-rubah rencana bisa bebas. Tiba-tiba kepengen ke sana atau ke sini, ya terserah saja.

Tidak ada drama dan hidup lebih fleksibel

Solo treveling akan membebaskan kita dari kemungkinan hadirnya friksi antara kita dan teman perjalanan kita. Bayangkan, jika kita berantem dengan teman seperjalanan, pasti bakalan bikin bete. Mood menghilang dan akhirnya segala rencana perjalanan kita bisa berantakan.

Selain itu, menjadi solo traveling bakal bikin kita jadi lebih fleksibel. Kadang kalau bareng teman, kita rada ragu soal banyak hal, entah itu penginapan atau makanan. Sebabnya karena kita takut pilihan kita nggak sesuai dan nggak disetujui oleh teman seperjalanan kita. Namun dengan bersolo traveling, kita bahkan bisa lebih fleksibel soal segala hal. Mau nginep di hotel, hostel, atau bahkan nyobain menggelandang sekalipun, bebas-bebas saja. Makan juga terserah kita mau yang di restoran mahal ataupun sekedar street food yang murah meriah.

Tidak ada yang motoin

Untuk traveler baik yang senior maupun yang pemula, dokumentasi adalah hal wajib dalam setiap perjalanan. Tanpa foto rasanya akan ada yang kurang. Bukan sekedar sebagai bukti bahwa kita pernah ke tempat-tempat tersebut, namun juga rekaman kenangan dari pengalaman-pengalaman perjalanan kita.

Nah memfoto adalah hal yang jadi kendala ketika kita melakukan solo traveling. Terutama buat mereka yang nggak doyan selfie. Karena kita sendirian, tidak ada yang akan memotretkan kita bersama objek yang ingin kita ajak berfoto. Akibatnya kita cuma bisa memotret pemandangan-pemandangan di tempat yang kita kunjungi tersebut tanpa kita sendiri bisa ikut masuk kedalam foto. Bisa-bisa ntar kita dibilangin cuma comot gambar dari internet.


Solo traveler biasanya cuma bisa motoin kaki...
(sumber gambar : dokumen pribadi)

Sebenarnya ini bisa disiasati dengan minta bantuan orang-orang untuk memfotokan. Tapi kalau tiap kali mau foto musti minta tolong orang lain dulu, apa nggak ribet? Apalagi di beberapa tempat wisata ada saja yang menawarkan jasa meotret. Hanya saja, namanya jasa berarti ada harga yang harus dibayarkan untuk perkerjaan mudah seperti itu.

Kalau yang pemalu bisa sesat di jalan

Ada pepatah yang bilang "Malu bertanya, sesat di jalan." Buat para pemalu, jadi solo traveling mungkin bisa jadi mimpi buruk. Karena maklum saja, jika kita kepengen jalan-jalan ke tempat wisata yang belum pernah kita kunjungi, terus kita malu buat tanya-tanya entah alamat ataupun petunjuk arah, bisa-bisa kita bakalan tersesat.

Sekarang memang sudah ada GPS yang sangat memudahkan soal pencarian arah. Tapi komunikasi yang baik adalah susuatu yang tetap dibutuhkan. Ia bisa digunakan untuk macam-macam, menawar barang, bertanya alamat, mencari angkot, dan lain-lain. Kalau kita kebanyakan rasa malu tidak pada tempatnya dan enggan bertanya ketika bersolo traveling, bisa jadi banyak kerugian entah itu waktu, uang atau apapun.

Nah itu di dalam negeri, di luar neger jauh lebih sulit lagi. Meski kita gape berbahasa Inggris, tak berarti masalah beres. Banyak negara yang masih menggunakan bahasa mereka sendiri bahkan juga aksaranya sendiri. Nah di tempat-tempat seperti begini, kita bakal diharuskan lebih banyak bertanya. Nah, jadi sebelum bersolo traveling, siapkan mental kita untuk banyak bertanya pada orang asing. 

Kemandirian diuji dan bersiaplah berkenalan dengan orang-orang baru

Pada akhirnya, semua kemungkinan yang terjadi ketika bersolo traveling akan membuat kemadirian kita diuji. Kita harus siap untuk memecahkan masalah dan tantangan yang dihadapi selama perjalanan seorang diri. Kita juga dituntut untuk siap membuat keputusan dan tentu saja mempertanggung jawabkan konsekuensi dari keputusan tersebut.

Dan yang menurut saya paling menyenangkan adalah, bersolo treveling membuka peluang kita untuk berkenalan dengan banyak orang-orang baru. Nggak lucukan jika sepanjang perjalanan yang jadi teman kita cuma smartphone aja. Ngobrolnya pun cuma di aplikasi chating dan dengan orang-orang yang justru ada jauh entah di mana. Lihatlah orang disekitar kita. Ajaklah mereka ngobrol dan bicara. Barangkali kita akan menemukan banyak kejutan dan cerita luar biasa.
Copyright © 2014 SANTOSA-IS-ME