SOLO TRAVELER, WHY NOT?
Doyan traveling?
Saya rasa tidak ada yang tidak menyukai menjadi seorang traveler. Karena secara naluriah manusia itu menyukai hal-hal baru dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Dan menjadi traveler adalah salah satu cara memenuhi dua naluri dasar manusia tersebut.
Hanya saja tidak semua orang bisa bebas melakukan jalan-jalan sesuka hatinya. Ada banyak faktor yang sering kali menjadi penghambatnya. Mulai dari biaya, waktu, usia, sampai bahkan ketakutan-ketakutan yang sebenarnya belum terjadi. Sering teman yang diajak melakukan perjalanan ke luar kota lebih dulu menanyakan "nanti makan apa di sana?" atau "nanti nginapnya dimana?" Padahal dengan teknologi informasi yang serba canggih seperti sekarang ketakutan-ketakutan konyol semacam ini harusnya bisa dijawab dan diatasi.
Buat mereka yang punya jam terbang tinggi di dunia traveling, jalan-jalan sendirian ke sebuah tempat baru mungkin sesuatu yang biasa-biasa saja. Namun untuk orang-orang seperti saya yang jarang traveling dan cuma bisa jalan-jalan ketika diizinkan cuti oleh kantor, pergi ke sebuah tempat baru seorang diri mungkin bukan suatu pilihan yang populer.
Meski begitu, buat mereka yang menyukai tantangan dan mengagungkan kebebasan, solo traveling bisa jadi sesuatu yang menyenangkan. Tapi kan sepi kalau jalan sendirian? Bisa jadi juga, tapi bisa jadi juga nggak. Untuk berwisata ke daerah-daerah perkotaan, menjadi solo traveler menurut saya adalah pilihan yang tepat. Kemudahan akses informasi, keamanan, dan sarana yang lengkap di daerah perkotaan, saya rasa tidak akan membuat kita yang jalan sendirian bakal tersesat. Berikut beberapa hal yang bisa menggambarkan apa yang akan kamu dapatkan ketika melakukan solo traveling.
Tidak perlu menunggu siapa-siapa untuk liburan
Yang paling menguntungkan menjadi seorang solo traveler adalah kita tidak perlu menunggu siapa-siapa untuk melakukan perjalanan. Menjadi solo traveler adalah tentang diri kita sendiri. Begitu kita ada waktu senggang, kita bisa langsung memulai perjalanan.
| Solo traveling itu tentang kita dan diri kita sendiri... (sumber gambar: gbtimes.com) |
Maka kemewahan terbesar seorang solo traveler adalah kebebasan menentukan kapan hendak pergi tanpa harus menunggu atau menyamakan jadwal cuti dengan orang. Bahkan memaksimalkan akhir pekan yang singkat itu dengan traveling pun tidak akan menjadi persoalan.
Bebas menentukan tujuan dan jadwal
Setiap orang yang bertraveling punya preferensi tempat tujuan yang berbeda-beda. Begitupun kesenangannya, ada yang doyan belanja, ada juga yang mementingkan kuliner, atau ada yang fokus pada wisata budaya. Nah, dengan segala macam perbedaan ini ketika kita melakukan traveling bersama, harus ada yang mengalah.
Traveling bersama berarti kita harus siap menekan ego masing-masing. Kita harus belajar berkompromi dengan rekan traveling, entah soal tujuan, jadwal, ongkos, bahkan apa saja. Hal ini semata-mata agar kegiatan traveling menjadi sesuatu yang menyenangkan bagi tiap orang.
Nah, hal-hal tersebut tidak akan kita temui apabila kita melakukan solo traveler. Kita akan bebas menentukan segala sesuatunya seorang diri tanpa perlu memperhatikan pertimbangan orang lain. Mau belanja, makan atau sekedar mencoba mengunjungi tempat-tempat baru, ya silahkan-silahkan saja. Bahkan untuk ikut wisata ekstrem sekalipun, selama kita suka, nggak ada yang jadi penghalang. Selain itu, soal belanja kita bisa bebas mau hemat ataupun boros. Soalnya maklum, kalau bareng teman biasanya kita nggak bisa jor-joran soalnya harus mempertimbangkan teman kita juga kan?
Selain itu, dengan menjadi solo traveler, kita yang impulsif dan suka berubah-rubah rencana bisa bebas. Tiba-tiba kepengen ke sana atau ke sini, ya terserah saja.
Tidak ada drama dan hidup lebih fleksibel
Solo treveling akan membebaskan kita dari kemungkinan hadirnya friksi antara kita dan teman perjalanan kita. Bayangkan, jika kita berantem dengan teman seperjalanan, pasti bakalan bikin bete. Mood menghilang dan akhirnya segala rencana perjalanan kita bisa berantakan.
Selain itu, menjadi solo traveling bakal bikin kita jadi lebih fleksibel. Kadang kalau bareng teman, kita rada ragu soal banyak hal, entah itu penginapan atau makanan. Sebabnya karena kita takut pilihan kita nggak sesuai dan nggak disetujui oleh teman seperjalanan kita. Namun dengan bersolo traveling, kita bahkan bisa lebih fleksibel soal segala hal. Mau nginep di hotel, hostel, atau bahkan nyobain menggelandang sekalipun, bebas-bebas saja. Makan juga terserah kita mau yang di restoran mahal ataupun sekedar street food yang murah meriah.
Tidak ada yang motoin
Untuk traveler baik yang senior maupun yang pemula, dokumentasi adalah hal wajib dalam setiap perjalanan. Tanpa foto rasanya akan ada yang kurang. Bukan sekedar sebagai bukti bahwa kita pernah ke tempat-tempat tersebut, namun juga rekaman kenangan dari pengalaman-pengalaman perjalanan kita.
Nah memfoto adalah hal yang jadi kendala ketika kita melakukan solo traveling. Terutama buat mereka yang nggak doyan selfie. Karena kita sendirian, tidak ada yang akan memotretkan kita bersama objek yang ingin kita ajak berfoto. Akibatnya kita cuma bisa memotret pemandangan-pemandangan di tempat yang kita kunjungi tersebut tanpa kita sendiri bisa ikut masuk kedalam foto. Bisa-bisa ntar kita dibilangin cuma comot gambar dari internet.
![]() |
| Solo traveler biasanya cuma bisa motoin kaki... (sumber gambar : dokumen pribadi) |
Sebenarnya ini bisa disiasati dengan minta bantuan orang-orang untuk memfotokan. Tapi kalau tiap kali mau foto musti minta tolong orang lain dulu, apa nggak ribet? Apalagi di beberapa tempat wisata ada saja yang menawarkan jasa meotret. Hanya saja, namanya jasa berarti ada harga yang harus dibayarkan untuk perkerjaan mudah seperti itu.
Kalau yang pemalu bisa sesat di jalan
Ada pepatah yang bilang "Malu bertanya, sesat di jalan." Buat para pemalu, jadi solo traveling mungkin bisa jadi mimpi buruk. Karena maklum saja, jika kita kepengen jalan-jalan ke tempat wisata yang belum pernah kita kunjungi, terus kita malu buat tanya-tanya entah alamat ataupun petunjuk arah, bisa-bisa kita bakalan tersesat.
Sekarang memang sudah ada GPS yang sangat memudahkan soal pencarian arah. Tapi komunikasi yang baik adalah susuatu yang tetap dibutuhkan. Ia bisa digunakan untuk macam-macam, menawar barang, bertanya alamat, mencari angkot, dan lain-lain. Kalau kita kebanyakan rasa malu tidak pada tempatnya dan enggan bertanya ketika bersolo traveling, bisa jadi banyak kerugian entah itu waktu, uang atau apapun.
Nah itu di dalam negeri, di luar neger jauh lebih sulit lagi. Meski kita gape berbahasa Inggris, tak berarti masalah beres. Banyak negara yang masih menggunakan bahasa mereka sendiri bahkan juga aksaranya sendiri. Nah di tempat-tempat seperti begini, kita bakal diharuskan lebih banyak bertanya. Nah, jadi sebelum bersolo traveling, siapkan mental kita untuk banyak bertanya pada orang asing.
Kemandirian diuji dan bersiaplah berkenalan dengan orang-orang baru
Pada akhirnya, semua kemungkinan yang terjadi ketika bersolo traveling akan membuat kemadirian kita diuji. Kita harus siap untuk memecahkan masalah dan tantangan yang dihadapi selama perjalanan seorang diri. Kita juga dituntut untuk siap membuat keputusan dan tentu saja mempertanggung jawabkan konsekuensi dari keputusan tersebut.
Dan yang menurut saya paling menyenangkan adalah, bersolo treveling membuka peluang kita untuk berkenalan dengan banyak orang-orang baru. Nggak lucukan jika sepanjang perjalanan yang jadi teman kita cuma smartphone aja. Ngobrolnya pun cuma di aplikasi chating dan dengan orang-orang yang justru ada jauh entah di mana. Lihatlah orang disekitar kita. Ajaklah mereka ngobrol dan bicara. Barangkali kita akan menemukan banyak kejutan dan cerita luar biasa.










